Mengungkap Kebiasaan-kebiassan Nabi Muhammad SAW

Sesuai judulnya, buku ini mencantumkan sebanyak 165 kebiasaan (sunnah) Rasulullah Shallaahu ‘Alaihi wa Sallam (SAW), suatu kebiasaan yang mencakup hampir di segala sisi kehidupan beliau. Baik itu kebiasaan yang berkaitan dengan masalah ibadah dan syariat, ataupun kebiasaan beliau yang bersifat manusiawi. Baik itu ketika beliau sedang berada di Madinah, di dalam rumah, ataupun pada saat beliau sedang bepergian ke luar Madinah bersama para sahabat.

Metode atau manhaj penulisan buku ini, sebagaimana dijelaskan oleh penulisnya (halaman 12), adalah mendahulukan hadits-hadits yang bersifat fi’liyah (perbuatanNabi SAW) sebagai sandaran utama. Kemudian memakai hadits yang bersifat qauliyah (ucapan Nabi SAW) sebagai sandaran utama jika diyakini bahwa Nabi selalu rutin melakukan hal tersebut, jika dalam penulisannya tak mendapatkan hadits fi’liyah.    

Selanjutnya, penulis juga berusaha menggunakan hadits yang berderajat shahih, dan sedikit sekali memakai hadits yang berderajat hasan (baik), apalagi dha’if (lemah). Untuk mendukung kualitas sumbernya, penulis pun mentakhrij (menyeleksi) hadits-hadits yang dicantumkan, lengkap dengan perawi dan sumbernya, berikut pendapat ulama hadits tentang derajat kualitas hadits tersebut.

Jika pun berkaitan atau menyinggung masalah fikih, yang terdapat perbedaan dan tak bisa dihindarkan perbedaan itu, penulis telah berusaha menyusun secara sistematis dengan membagi pembahasan dalam sembilan bab sesuai dengan masing-masing masalah yang dibicarakan. Dan jika kesulitan untuk mengklasifikasikan suatu masalah, maka penulis meletakkannya pada bab terakhir, yaitu “Pernik-pernik Kebiasaan Nabi SAW.”

Penulis juga berusaha mengenyampingkan suatu masalah yang tidak terdapat hadits yang secara spesifik menyebutkannya. Misalnya, apakah Nabi SAW membuka khutbah idul fithri dan idul adha-nya dengan hamdalah atau dengan takbir. Karena memang tidak ada hadits yang menyebutkannya secara jelas.

Berikutnya, tidak memasukkan suatu perbuatan yang pasti dilakukan atau yang hukumnya wajib. Seperti, shalat 5 waktu, shalat maghrib 3 rakaat, shalat Jumat, khutbah Jumat dulu baru shalat, shalat dulu baru khutbah pada dua hari raya, puasa Ramadhan, tidak makan dan minum selama puasa, membayar zakat, mandi janabat jika junub, shalat dalam keadaan suci, dan sebagainya. Karena jelas hal itu sama sekali tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW selama hidupnya. Bahkan, semua kaum Muslimin yang mukallaf (dan memenuhi syarat) pun pasti selalu mengerjakannya, sebab hukumnya wajib.

Secara maknawi atau istilah, sunnah adalah apa saja yang berasal dari Nabi SAW, baik itu berupa perkataan, perbuatan, ataupun ketetapan. Kemudian para ulama hadits menambahkan, bahwa sirah (sejarah hidup) Nabi SAW semenjak lahir hingga wafatnya serta sifat-sifat kepribadian beliau juga merupakan bagian dari sunnah.

Mayoritas sunnah adalah sunnah qauliyah. Ini sebagaimana sabda beliau SAW: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya dia memuliakan tamunya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaknya dia berbicara yang baik-baik atau diam.” (Muttafaq’ ‘alaih dari Abu Hurairah).

Sedangkan sunnah taqriyah, ia tiak sebanyak sunnah qauliyah. Sunnah taqriyah adalah suatu perbuatan yang dilakukan oleh sahabat pada masa Nabi SAW, dimana beliau mengetahuinya namun beliau hanya diam saja; tidak melarang, juga tidak menyuruh. Dan, beliau SAW tidak pernah mendiamkan suatu kebatilan juga tidak pernah mendiamkan sesuatu kecuali sesuatu yang benar. Seperti diamnya beliau ketika mengetahui Khalid bin Walid memakan daging dhab (binatang sejenis biawak, tetapi lebih kecil dan tidak buas), diamnya beliau ketika mengetahui para sahabat melakukan ‘azl (senggama terputus), diamnya beliau saat melihat para sahabat duduk sambil tidur di masjid dalam keadaan wudhu kala menanti datangnya iqamat, kemudian mereka langsung shalat tanpa berwudhu lagi. Dan seterusnya….

Adapun sunnah fi’liyah adalah yang dipaparkan dalam buku ini. Sunnah fi’liyah mencakup semua perbuatan yang dilakukan Rasulullah SAW, baik itu dalam hal ibadah ataupun muamalat, entah itu hanya sekali atau dua kali dilakukan, maupun sering dan rutin dilakukan.

Pribadi Nabi sangatlah agung untuk digambarkan, beliau memang suri teladan sejati dalam hidup ini. Karena itulah, Allah memerintahkan kita agar mengikuti beliau. Dalam Al-Quran disebutkan, “Dan apa pun yang dibawa Rasul kepada kalian, maka ambillah. Dan apa yang dilarang kalian mengerjakannya, maka jauhilah. (QS. Al-Hasyr: 7).

Disusun secara sistematis, aplikatif dan menggunakan bahasa yang komunikatif, buku ini terasa mudah dicerna. Dan sebagai seorang yang mencintai sunnah beliau, tentu buku ini sangat cocok bagi kita. (w-islam.com)

Judul Buku   : 165 Kebiasaan Nabi SAW

Penulis          : Abduh Zulfidar Akaha

Penerbit         : Pustaka Al-Kautsar, 2002

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>