China Larang Cendikiawan Uyghur Bepergian ke Luar Negeri

Seorang cendikiawan Muslim Uyghur ternama dicegat di bandara dan tidak diperbolehkan melakukan perjalanan ke luar negeri hari Ahad kemarin (2/2/2013).

Dilansir Radio Free Asia, pakar ekonomi Ilham Tohti kepda FRA Uyghrur mengatakan dirinya dilarang terbang menuju Amerika Serikat dan disuruh pulang kembali ke rumahnya di Beijing hari Sabtu malam setelah diinterogasi selama delapan jam di bandara. Tohti berenca ke AS untuk mengajar di Universitas Indiana selama satu tahun.

“Saya diberitahu bahwa putri saya sudah berada di atas pesawat menuju AS,” kata Ilham Tohti, profesor di Central Minorities University, Beijing dan seorang pengkritik vokal kebijakan-kebijakan pemerintah China.

Tohti adalah aktivis pembela HAM minoritas Uyghur yang kebanyakan tinggal di wilayah Xinjiang dan sering diperlakukan diskriminatif oleh China, yang mayoritas merupakan suku Han.

Tidak diketahui dengan pasti mengapa Tohti dilarang meninggalkan China untuk mengajar di Universitas Indiana, AS.

Pihak AS telah mengeluarkan visa J-1 yang berlaku bagi orang asing yang datang ke AS untuk bekerja dan belajar. Sedangkan putrinya diberikan visa J-2 yang biasanya dikeluarkan tergantung kepada pemegang visa J-1.

Saat berada di bandara, Tohti sempat mengirimkan pesan pendek kepada temannya memberitahukan bahwa ia dan putrinya ditahan saat mereka melewati pos pemeriksaan dan sejumlah polisi mengawasinya.

Tohti beberapa kali keluar masuk tahanan sebelum dan sesudah terjadinya kekerasan massal atas Muslim Uyghur di ibukota Xinjiang, Urumqi tahun 2009, yang menelan korban jiwa 200 orang.

Tohti membuat situs Uyghur Online, sebuah website moderat yang mengangkat masalah-masalah sosial. Situs itu kemudian ditutup pemerintah China pada tahun 2009.

Tahun lalu versi baru dari situs itu dibuat dan ditempatkan di server luar negeri dan diblokir sehingga tidak dapat diakses dari dalam negeri China.

Oktober tahun lalu, Ilhan Tohti dibawa keluar Beijing dan dikirim ke daerah asalnya di Urumqi dan Atush di Xinjiang, saat Partai Komunis yang menguasai pemerintahan China akan menggelar Kongres Nasional ke-18. Putranya yang berusia enam tahun juga dilarang mendaftar di sekolah dasar di Beijing tahun lalu. (sumber: hidayatullah.com/4/2/2013)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>