Zuhud Sebagai Kunci Dunia

”Andai semua kejahatan dikumpulkan dalam sebuah bangunan, kunci pintunya adalah cinta dunia. Jika semua kebaikan menjadi satu dalam sebuah bangunan, kunci pintunya adalah zuhud dari dunia.” (Al-Fudhail bin Iyaadh)

Sungguh tepat perumpamaan di atas. Bayangkanlah, jika kejahatan itu berupa sebuah rumah, kunci rumah itu adalah cinta dunia. Seseorang yang memegang kunci dan membukanya akan bisa masuk ke dalam rumah tersebut. Ia akan menjadi bagian penghuni rumah. Maksudnya adalah, jika seseorang cinta kepada dunia, cinta materi, cinta harta, cinta kedudukan, cinta kepada hawa nafsu, ia akan menjadi seorang yang jahat. Ia menjadi penghuni bangunan bernama kejahatan.

Orang yang cinta kepada dunia akan menghalalkan segala cara. Misalkan ada seorang kontraktor. Ia berharap proyek sebuah gedung jatuh kepadanya. Ketika diadakan tender, ia berusaha melakukan kolusi dengan menyogok panitia tender. Ia berusaha memberikan pelayanan agar tender tersebut jatuh atau memenangkan dirinya. Apa pun dilakukannya agar menang dalam tender. Kecintaan kepada proyek telah mengantarkan dirinya untuk melakukan berbagai kejahatan.

Kejahatan itu bagai sebuah rumah, cinta dunia adalah kuncinya. Siapa memegang kunci itu, ia dapat memasuki dan menjadi penghuni rumah. Barangsiapa yang hidupnya dipenuhi oleh perasaan cinta dunia, ia takkan lepas berurusan dengan kejahatan bahkan ia sendiri menjadi pelakunya.

Sebaliknya, orang yang zuhud adalah orang yang beruntung karena ia memegang kunci kebaikan. Orang yang zuhud terhadap dunia adalah orang yang tidak menganggap dunia sebagai tujuan hidup. Dunia bahkan dibencinya bagaikan kotoran yang harus jauh-jauh dari dirinya. Orang yang zuhud tidak akan peduli hartanya banyak atau sedikit. Jika miskin harta ia akan bersyukur karena tidak akan ditanyai apa-apa kelak di akhirat, jika diberi kemurahan rezeki oleh Allah dia akan manfaatkan seluas-luasnya. Ia tidak akan lama-lama menyimpan harta karena segera ia sedekahkan di jalan Allah SWT.

Sikap zuhud akan melahirkan sikap kedermawanan, mengikis kebakhilan, dan ikhlas dalam berbuat. Baginya, yang penting mendapat pahala dari Allah. Apakah di dunia secara materi rugi atau dicela, asal di mata Allah perbuatan itu mulia maka akan dikerjakannya. Apa yang ia perbuat ikhlas lillahi ta’ala.

Selain itu zuhud juga melahirkan perbuatan baik yang lain seperti sabar menghadapi musibah, senantiasa bersyukur, rajin beribadah, sederhana, takut hanya kepada Allah, rendah hati, tenggang rasa, adil, dan lain-lain. Oleh karena itu, tepatlah bahwa zuhud merupakan kunci kebaikan. Siapa mempunyai sikap zuhud, insya Allah akan menjadi ahlul khair, orang yang senantiasa melakukan kebaikan. Semoga kita termasuk di dalamnya. Wallah’alam bisshawab. (w-islam.com)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>