Islam di Indonesia tidak Perlu Dibingkai dengan Liberal

KH. Abdurrahman Navis, Lc, MHI – Ketua Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur – mengingatkan bahwa dalam dakwah di Indonesia kita tidak perlu berkiblat kepada Barat. Karena akan merusak Islam itu sendiri.

“Maka dalam berdakwah ikutilah cara walisanga dahulu. Tidak perlu berkiblat kepada Eropa. Walisangan bukan radikal, apalagi liberal yang menjatuhkan otoritas ulama,” terang KH. Abdurrahman Navis dalam Seminar Nasional “Membingkai Kembali Islam di Indonesia” di Auditorium IAIN Sunan Ampel Surabaya, Rabu (03/04/2013).

Kiai Navis mengisahkan kunci kesuksesan dakwah Walisongo. Menurutnya, para Walisongo memperhatikan dua hal, yaitu; fikih dakwah dan fikih ahkam. “Fikih dakwah, meliputi metode. Di mana para Walisongo menggunakan cara-cara damai dan kreatif. Namun, mereka juga menerapkan fikih ahkam. Yakni memperhatikan mana yang furu’ dan ushul. Sehingga dakwahnya tidak menyesatkan,” ungkapnya.

Apapun metode yang dipraktikkan Walisongo, jelas Kiai Navis, tetap tujuannya adalah penerapan syariah Islam. “Islam datang ke Indonesia untuk tathbiqus syariah (menerapkan syariat). Sehingga muncullah kesultanan-kesultanan dengan sistem Islam, seperti kesultanan Demak”, tegasnya.

Karena itu, Navis mengingatkan, membingkai Islam di Indonesia itu yang tepat dengan mengikuti cara Walisongo, yang berakidah Ahlus Sunnah. Bukan dengan bingkai liberal.

Sementara, Henry Shalahuddin, MA, yang juga menjadi narasumber mengkritik wacana membingkai kembali Islam.            “Kenapa Islam dibingkai ulang? Jika Islam dipandang secara sosiologis empirik, seakan-akan Islam itu menjadi budaya”, terang peneliti INSISTS ini.

Dan menempatkan Islam sebagai budaya, tidaklah tepat. Apalagi menurut Henry, ada wacana seakan-akan Islam itu terlalu Arab, sehingga perlu dibingkai kembali.

Henry menjelaskan, persoalan krusial Islam di Indonesia adalah Islam atau Muslim dituduh melakukan kekerasan terhadapa kaum minoritas. “Media-media Islam terlalu provokatif  jika memberitakan ada oknum-oknum beragama Islam atau berorganisasi Islam,” katanya.

Padahal, jelas Henry, kekerasan lain di mana kaum Muslim menjadi korbannya sepi diberitakan. “Kekerasan yang terjadi seperti sebuah masjid di Sumatera Utara dibakar, kenapa media-media sepi memberitakannya,” protes Henry. Menurutnya, aktivis HAM juga tidak bersuara.

Karena itu, Henry menjelaskan bahwa kita terlalu menyorot kekerasan fisik. Sementara kekerasan intelektual yang tidak kalah meresahkan diabaikan.“Program liberalisasi, deradikalisasi, penghalalan lesbian dan homoseks dan lain-lain itu adalah kekerasan yang lebih meresahkan masyarakat,” ujarnya.

Henry menerangkan, persoalannya adalah kita minder dengan keislaman sendiri. Sehingga bingkai mencari dari yang tidak Islam. “Kita ini minder dengan Islam kita sendiri. Tapi bangga dengan sok tidak Islami”, tegasnya.

Selain Kiai Navis dan Henry Shalahuddin,  seminar juga menghadirkan Direktur Islam Moderat Zuhairi Misrawi yang juga dikenal pegiat liberalisme. Zuhairi sempat terpancing meninggikan nada bicara ketika seorang aktivis IPNU mendebat pernyataannya bahwa tradisi pembacaann shalawat barzanji dari Iran. (sumber: hidayatullah.com/3/4/2013)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>