“Al-Amin” Gelar untuk Muhammad SAW

Dalam sebuah ensiklopedi dunia, Britanica Encyclopedia, pada matei Biografi Muhammad SAW disebutkan bahwa gelar “Al-Amin” kepadanya disebabkan ibunya bernama Aminah. Padahal, faktanya orang-orang di Arab di masa itu memberikan kesaksian atas gelar tersebut tanpa menghubung-hubungkan dengan ibunya.

Gelar “Al-Amin” bagi Muhammad SAW disandangkan oleh penduduk Mekkah karena dikenalnya Muhammad SAW sebagai seorang laki-laki yang penuh amanat dan kejujuran. Dan karena fakta ini, amanat dan jujur, saja yang menarik hati seorang Khadijah yang kemudian berharap dapat menikahinya, setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri saat beliau dipekerjakan di usaha dagang yang digelutinya. Belakangan harapannya itu terkabulkan.

Tak sedikit penduduk Mekkah yang ketika hendak meninggalkan rumahnya mereka menitipkan barang-barang berharganya pada Muhammad SAW. Banyaknya penduduk yang mengenali Muhammad SAW sebagai orang yang dapat dipercaya penuh, maka tak heran jika mereka pernah menjadikan Muhammad SAW sebagai hakim atau pemutus masalah ketika mereka bertengkar soal kelompok yang berhak meletakkan Hajar Aswad saat bangunan Ka’bah direnovasi. Muhammad SAW-lah yang akhirnya dipercaya sebagai penengah hingga batu hitam tersebut dapat dikembalikan olehnya.

Pernah dalam peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah, beliau masih memiliki sejumlah barang titipan dari beberapa warga. Ketika itu beliau hendak dibunuh oleh orang-orang kafir Qureisy sehingga dirinya mengatur strategi dengan memanfaatkan keponakannya, Ali bin Abu Thalib, agar menggantikan posisi tidurnya saat para musuh mendekati kediamannya.

Sebelum Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah, beliau meminta Ali agar tetap tinggal di Mekkah dan jangan meninggalkannya dikarenakan beliau memiliki titipan barang-barang milik penduduk Mekkah. Pesan kepada Ali ini dimaksudkan agar Ali  dapat mengembalikan barang-barang titipan tersebut hingga setelah semua dikembalikan barulah Ali diperbolehkan ikut hijrah.

Kejujuran dan amanat merupakan ciri khas Rasulullah SAW yang sudah melekat dan dimiliki sejak beliau berumur kanak-kanak hingga dewasa. Tak sedikit kisah yang menggambarkan hubungan antara akhlak yang terjaga dengan sifat mulia yang dimilikinya itu. Misalnya, sejak kanak-kanak Muhammad SAW tak pernah menyia-nyiakan waktunya untuk bersenda gurau yang berlebihan. Beliau juga menjaga diri dari hadir di tengah perayaan kaum jahiliyah, tak pernah mencicipi minuman keras, dan tak tertarik bermain judi.

Akhlak terpuji itulah yang mengantarkannya menjadi manusia pilihan yang, tanpa diminta, masyarakat memberikan gelar kepada beliau dengan ‘’Al-Amin”. (w-islam.com/berbagai sumber)

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>