Kafir Quraisy Juluki Rasulullah SAW sebagai “Tukang Sihir”

Al-Quran yang diturunkan oleh Allah SWT melalui perantaraan malaikat Jibril (ruhul qudus) bukanlah sembarang susunan huruf dan kata-kata yang membentuk kalimat. Kalimat demi kalimatnya begitu dan khas dan membuat pendengarnya yang memahami bahasa Arab  begitu terpesona.

Hal itu karena penyair Arab di masa itu mengakui keindahan serta keagungan Al-Quran. Mereka yang mencoba membuat satu ayat pun gagal karena tak sepadan nilai dan pesan yang disampaikannya. Berbeda dengan ayat-ayat Al-Quran tersusun secara sempurna.

Keindahan dan keagungan isi Al-Quran itulah yang mampu menaklukkan hati-hati sebagian masyarakat di masa Arab Jahiliyah kuno. Satu demi satu mereka menyatakan masuk Islam dan mengikuti Nabi Muhammad SAW dengan ketaatan penuh.

Kondisi tersebut membuat para pembesar kafir Quraisy gundah dan gusar. Jangankah banyak orang yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW, satu orang pun mereka tak memberikan toleransinya.

Sampai akhirnya pada suatu hari, sejumlah pembesar Quraish mengadakan pertemuan darurat demi membahasa situasi dan kondusi yang tak menguntungkan pihak mereka. Kediaman Al-Walid bin bin Al-Mughiroh sebagai tetua dan banyak pengalaman masa lalu, dijadikan sebagai tempat pertemuan.

Hasil dari pertemuan tersebut adalah berupa kampanye pengkambinghitaman Rasulullah SAW dan para pengikutnya. Beberapa usulan julukan yang diberikan kepada Rasulullah SAW sempat diusulkan. Misalnya, ada yang mengusulkan julukan seorang dukun.

Namun, tetua kelompok itu menolak usulan tersebut. Alasannya, karena pada diri Rasulullah SAW tidak tampak ciri sebagai seorang dukun. Ciri dukun tersebut antara lain kerap mempraktikkan bahasa gumaman atau bermain sajak.

Kemudian muncul usulan julukan Rasulullah SAW sebagai orang gila pun diusulkan. Tetapi, usulan tersebut dibantah karena juga tidak ada tanda-tanda beliau seperti orang gila.

Lantas, sebagian ada yang mencoba usulan lain dengan julukan tukang sihir. Argumentasinya cukup bisa diterima: Nabi Muhammad SAW hadir di tengah masyarakat Arab Jahiliyah dengan membawa perkataan penuh daya tarik, serta dinilai mampu memisahan antara seseorang dengan anaknya (karena perbedaan pandangan)

Ketika musim haji tiba, para jamaah yang berasal dari berbagai penjuru daeirah dan negara tetangga, dibisiki dan diteriaki bahwa Nabi Muhhammadi tu tukang sihir yang membayakan peradaban.

Sebagian jamaah haji ada yang terpengaruh dengan ucapan tersebut. tetapi ada pula yang tak pengaruh sama-sekali. Bahkan, ada yang malah menyatakan diri masuk Islam dan menjadi pengikut Rasulullah SAW. Allahu Akbar! (w-islam.com, dari berbagai sumber)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>