Orang Beriman Mengharap Balasan Kebahagiaan di Akhirat

Orang beriman memiliki ketangguhan dalam menjalankan perintah Allah SWT yang lebih kuat dibandingkan orang Islam. Sebab, pemahaman mereka atas ibadah, syariat, muamalat, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan urusan dunia maupun akhirat, juga lebih mendalam.
Jika seorang muslim baru menekankan pada masalah yang bersifat jahriyah, maka orang mukmin sangat menekankan hal yang bersifat baik jahriyah maupun sirriyah (yang tersembunyi, dalam hati dan jiwa).

Maka tak heran jika orang mukmin tak mudah diperdaya oleh urusan duniawi dibandingkan masalah ukhrawi (ke-akhirat-an). Hal demikian diterangkan oleh Allah SWT, sebagaimana tertuang dalam Al-Quran surat An-Nur: 37, yang artinya:
“Orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (yakni hari Kiamat).”
Secara naluriah manusia memiliki harapan-harapan. Dan bagi orang beriman, apa yang dilakukan di dunia ini merupakan jembatan untuk mengharap adanya balasan yang lebih baik dari sang Khaliq, Allah SWT. Demikian lanjutan ayat di atas diterangkan oleh Allah SWT.
“(mereka melakukan itu) agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Dia menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas. (QS An-Nur: 38)
Sementara orang-orang kafir melihat perbuatan mereka di dunia ini akan dibalas dengan kenikmatan pula di akhirat. Mereka berpiki bahwa dengan memberikan sedekah serta melakukan kebajikan lainnya (tanpa dasar keimanan pada Allah SWT) kelak mereka dapat menikmati pahala yang banyak pula.
Allah SWT tidak akan menilai amal perbuatan mereka dikarenakan tiadanya kepercayaan yang penuh kepada Allah dan menaati perintah-Nya. Amalan mereka dianggap sebagai fatamorgana, sebagaimana terungkap dalam lanjutan ayat di atas.
“Dan orang-orang yang kafir, perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila didatangi tidak ada apa pun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah baginya. Lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan (amal-amal) dengan sempurna, dan Allah sangat cepat hitungan-Nya.
Atau (keadaan orang-orang kafir) seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh gelombang demi gelombang, di atasnya ada (lagi) awan gelap. Itulah gelap gulita yang berlapis-lapis. Apabila dia mengeluarkan hampir tidak dapat melihatnya. Barangsiapa tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka dia tidak mempunyai cahaya sedikit pun.” (QS An-Nur: 39-40)
Demikian perbedaan orang mukmin dibandingkan orang kafir dalam mengamalkan kebajika. Moga kita menjadi mukmin sejati. (w-islam.com)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>