Bagaimana Menyikapi Masalah dengan Orang Tua?

Saya Irsan, umur 35 tahun, anak ke-4 dari 5 bersaudara. Kakak saya ada yang laki-laki dan perempuan, sedangkan adik saya perempuan. Saya juga pernah mengalami perlakuan yang “tak adil” dari orang tua.

Perlakuan tersebut bahkan menurut saya dilakukan sejak saya masih kecil. Menurut cerita kerabat dekat, dan saya sendiri waktu kecil, saya anak yang aktif sehingga pada waktu ada perabot yang rusak saya selalu divonis yang bersalah tanpa diberikan kesempatan membela “ini pasti Irsan!!!”

Pada waktu SD saya pernah bertengkar dengan kakak yang meledek saya, kemudian saya pukul. Pada waktu SD juga ayah pernah menyuruh saya membeli tali sepatu, sedangkan secara bersamaan ibu menyuruh saya membeli sarapan.

Berhubung yang memberi uang ayah, maka saya belikan tali sepatu dan sisanya baru saya belikan lauk sarapan. Akan tetapi peristiwa itu hampir selalu disampaikan di setiap pertemuan keluarga, bahwa saya anak gak jelas, disuruh beli sarapan dapatnya tali sepatu.

Dan ayah saya langsung menginjak kepala saya tanpa memarahi atau menasehati kakak saya yang meledek saya. Menginjak waktu SMP saya gemar menabung. Setelah terkumpul tabungan, saya diminta ayah utk membelikan baju baru kakak saya.

Pada waktu SMP juga, pada waktu itu saya dititipkan di rumah saudara. Saat itu terjadi peristiwa, yakni sepeda saya hilang dan saya diberi hukuman yang tidak perlu disebutkan di sini. Hilangnya sepeda saya itu karena budhe (kakak perempuan dari ibu—red.) tidak boleh memasukkan sepeda ke dalam rumahnya.

Menginjak SMA saya yang selalu disuruh untuk segala sesuatu yang saudara lainnya tidak mau melakukannya, misalnya kerja bakti, ikut peringatan 17 Agustus-an, dengan alasan saudara yang lain tidak tahan dengan omongan tetangga yg “tidak mau bergaul” di lingkungan sekitar.

Sebagai tambahan informasi, maaf bukan bermaksud sombong, saya dalam pendidikan menurut saya termasuk berprestasi. Sebagai contoh saya kuliah mendapatkan beasiswa kuliah gratis, sedangkan saudara yang lain tidak. Pada waktu kuliah saya satu-satunya anak yang tidak pernah dijenguk oleh orang tua di kos-an saya.

Setelah berkeluarga, pada waktu ayah saya sakit keras, saya pernah menunggu ayah, namun karena pekerjaan, saya mewakilkan istri saya untuk menunggu ayah bergantian dengan saudara yang lain. Setelah ayah saya meninggal, sebagian dari saudara-saudara saya mengabarkan bahwa saya tidak menunggu ayah pada waktu sakit.

Sebagai tambahan, ayah mempunyai kakak perempuan yang tidak berputra, sehingga pada waktu suaminya meninggal keluarga kami yang merawatnya, sampai dengan ayah meninggal, beliau masih di rumah kami,selama bertahun-tahun dengan konsekuensi warisan dari budhe berupa tanah dan sawah diberikan kepada salah satu saudara saya. Di sini timbul konflik tatkala budhe tersebut sakit, ibunda dan saudara yang lain berharap saudara bapak yang lain menerimanya, namun saudara bapak yang lain tersebut menerima namun dengan berat hati, dan ibunda dan saudara yang lain menggerutu “merawat kakaknya kok gak mau”.

Di sini saya berbeda pendapat dengan ibunda dan saudara saya yang lain yang menggerutu atas sikap saudara ayah tersebut. Saya berpendapat bahwa “kalau memang ikhlas merawat budhe sebaiknya warisan tersebut dihibahkan saja, untuk membuktikan bahwa kita ikhlas merawat, namun jika masih menginginkan warisan tersebut, janganlah menggerutu atas sikap saudara ayah yang lain dan para tetangga”.

Berawal dari konflik di atas, mohon maaf ibunda selalu mencari kesalahan apabila saya tidak mengangkat telpon dan dianggap cuek, sedangkan kalau saudara yang lain tidak mengangkat telpon selalu dibela, dan kejadian ini terus berulang-ulang sampai dengan sekarang.

Setelah saya berkeluarga lambat laun istri saya tidak bisa menerima perlakuan ibunda terhadap saya. Namun saya berusaha untuk menenangkannya. Karena dilakukan berulang-ulang, misalnya saat ibu selalu mementingkan urusan saudara-saudara saya dibanding saya dan istri saya, misalnya istri saya sudah membuat appointment dengan saudara/teman seminggu sebelumnya dan adik saya ada keperluan dengan istri saya, ibunda memaksa untuk mendahulukan kepentingan adik saya. Sampai pada suatu saat istri saya berkata “kamu memilih aku dan anak-anak atau ibumu”. Saya jawab “saya memilih ibuku dari kamu dan anak-anak″.

Namun kesabaran saya sampai pada puncaknya karena hal-hal sebagai berikut:
1. Ibu menyuruh saya untuk lebih keras terhadap istri saya (padahal istri saya keras dikarenakan tidak terima saya diperlakukan tidak adil)
2. memarahi saya di depan anak dan istri saya sampai saya menangis diikuti istri dan anak-anak saya. (penyebabnya kakak tidak komitmen, saya bersepakat saya meminta maaf kepada kakak dan ibu saya yang saya tidak bersalah, dengan konsekuensi kakak saya meminta maaf kepada istri karena pernah mengatakan hal yang tidak benar tentang istri saya. Saya berkomitmen meminta maaf, namun kakak saya tidak dan saya menyebutnya dengan kata “pengecut”)

Untuk mereduksi kemarahan saya setiap habis sholat saya selalu berdo’a “ya Allah ampunilah dosa-dosa ibuku” lebih banyak daripada doa-doa yang lain. Untuk hal-hal tersebut di atas saya mohon:
1. mendo’akan saya agar selalu berbakti kepada orangtua terutama ibu
2. bagaimana saya harus bersikap
Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah bagi kita semua aamiiin.

Tanggapan W-Islam:
Saudara Irsan, semoga Allah Ta’ala memberikan kesabaran dan keberkahan hidup atas masalah yang Saudara hadapi. Kami turut merasakan betapa kondisi yang Anda hadapi ini seperti pepatah bilang “bak buah simalakama, jika dimakan ayah mati, jika tidak dimakan ibu yang mati.

Lembaran kehidupan setiap insan berbeda-beda, memang. Sebab, setiap orang dilahirkan dari kedua orang tua yang masing-masing memiliki aneka rupa tabiat, sikap, dan perilaku yang dibawa sejak kecil hingga keduanya terikat dalam ikatan rumah tangga.

Oleh karena itu, orang yang beriman kepada Allah SWT dan hari kiamat, dimana kelak semua amal perbuatan kita akan dibalas seadil-adilnya oleh Yang Maha Adil, semestinya memilih pasangan hidup yang memiliki visi dan misi hidup yang sama, yakni menjadi hamba Allah SWT yang taat dan bertakwa.

Sebab, dari sepasang suami isteri ini kelak akan melahirkan anak-anak atau generasi yang dalam Islam wajib didik untuk mengenal Allah SWT dan Rasulnya kemudian menjadi hamba-hamba yang bertakwa (menjalankan semua perintah-Nya, serta menjauhi segala larangan-Nya.

Dalam Quran Surah At-Tahrim, ayat 6 Allah SWT berfirman, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah para malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya.”

Dari satu ayat di atas, jelaslah bahwa tugas orang tua yang beriman itu wajib menjaga keluarganya dari azab neraka, yaitu dengan mendidik anak-anaknya menjadi generasi yang kelak juga beriman serta bertakwa kepada Allah SWT.

Jika saja orang tua Anda saat mengikat janji dalam satu ikatan keluarga dulu memiliki visi dan misi yang demikian, kami yakin cara mendidik anak-anaknya, baik laki-laki maupun perempuan, akan berlaku adil sebagaimana yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Cara mendidik anak (tarbiyatul aulad) sudah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Anak-anak yang masih balita dan remaja, cara mendidiknya berbeda pendekatan dibandikan jika kelak sudah baligh (dewasa). Rasulullah dan para sahabat mendidik putera-puterinya dengan kasih kasih dan kelembutan. Hukuman pun ada aturannya, di antaranya tidak memukul wajah dan bagian vital dari badan sang anak.

Beberapa hal yang terlarang dalam menghukum anak antara lain:
1.Memukul wajah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang memukul muka seperti sabda beliau, “Jika salah seorang dari kamu memukul, maka hendaknya dia menjauhi (memukul) wajah.”

2.Menampakkan kemarahan yang sangat
Ini juga dilarang kerana bertentangan dengan amalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bukanlah orang yang kuat itu diukur dengan kuatnya dia melawan, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.”

3.Memukul di dalam keadaan sangat marah
Dari Abu Mas’ud al-Badri, dia berkata, “(Suatu hari) aku memukul budakku (yang masih kecil) dengan cemeti, maka aku mendengar suara (teguran) dari belakangku, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud!’ Akan tetapi, aku tidak mengenali suara tersebut kerena kemarahan (yang sangat). Ketika pemilik suara itu mendekat dariku, maka ternyata dia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Baginda berkata, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud! Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud!’ Maka aku pun melempar cemeti dari tanganku, kemudian beliau bersabda, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud! Sesungguhnya Allah lebih mampu untuk (menyiksa) kamu daripada apa yang kami siksakan terhadap budak ini,’ maka aku pun berkata, ‘Aku tidak akan memukul budak selamanya setelah (hari) ini.”

4.Bersikap terlalu keras dan kasar
Sikap ini jelas bertentangan dengan sifat lemah lembut yang diajar oleh Islam sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang terhalang dari sifat lemah lembut, maka dia akan terhalang dari mendapat kebaikan.”

5.Memukul dengan benda keras sehingga berbekas
Ini juga dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebaik-baiknya gunakan rotan yang tidak boleh mendatangkan kecederaan dan berbekas pada kulit. Menghukum dengan rotan dibolehkan dengan tujuan untuk memberikan peringatan kepada anak.

Banyak psikolog melarang orang tua menghukum anak secara fisik, karena dapat berlanjut ke kekerasan fisik. Akibatnya menyebabkan keseimbangan emosi anak terganggu. Bahkan, tak jarang perilaku anak juga bisa makin ‘liar’. Meski orang tua hanya sesekali memukul anak, tetap saja dapat membuat anak cenderung mudah stres dan tidak percaya diri. Masalahnya ketika anak berbuat kesalahan, hampir 90 persen orang tua mengaku pernah memberikan hukuman fisik.

Jika sudah terlanjur harus menghukum anak, tentunya dengan maksud mendidik, memberi pengajaran tetap berpatokan tanpa harus melukai fisik mereka, menurut salah satu penelitian dengan membentak pun lebih dari 10 trilyun sel-sel dalam otak anak yang sedang tumbuh berkembang, satu bentakan atau makian mampu membunuh lebih dari 1 milyar sel otak saat itu juga yang dapat berakibat anak menjadi bebal atau apatis, seringkali tidak peduli terhadap suatu hal, memiliki pribadi yang tertutup, minder dan takut mencoba hal-hal baru, anak akan memiliki sifat pemarah, egois dan judes karena dibentuk dengan kemarahan orangtuanya serta memiliki sifat menantang, keras kepala, agresif dan suka membantah.

Kami bersyukur bahwa Saudara Irsan meski mengalami trauma masa kecil karena mendapat perlakuan dari orang tua maupun saudaranya, tidak memiliki dendam membara. Alhamdulillah, ini merupakan modal kuat Anda menjadi orang yang bijak.

Orang yang sabar banyak ujian. Karena itulah Allah SWT menyertai orang-orang yang sabar (periksa Quran Surah Al-Baqarah: 153). “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Di sisi lain, bakti kepada orang tua dalam Islam mendapat perhatian khusus. Ini karena orangtualah yang telah mendidik dan merawat kita. Dan orang tualah yang semestinya mengarahkan anak-anaknya menjadi anak yang shalih dan shalihah, taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Orang tua yang memiliki visi dan misi yang selaras dengan Allah SWT tersebut yang sangat terlarang bagi anak-anaknya untuk mendurhakainya.

Sementara jika orang tua kita pun kurang atau masih belum dapat menjalankan kewajibannya dalam mendidik anak-anaknya tersebut, ajaran Islam pun tetap tak mentolerir anaknya untuk “melawan atau mendurhakai orang tua”. Mungkin karena latar orang tua yang kurang pendidikan, baik formal maupun agama, bisa jadi kekurangannya ada di situ. Karena itu, doa-doa yang Anda ungkapkan tiap saat untuk kebaikan orang tua, sangatlah mulia. Sebab, kita tidak tahu dan terus berharap Allah yang Maha Tahu dapat melunakkan hati orang tua jika kita menganggapnya selama ini berlaku kurang adil.

Saran kami, cobalah Anda memperbanyak komunikasi lisan dengan ibunda sehingga diharapkan dengan seringnya berkomunikasi langsung ini dapat menghilangkan buruk sangka, baik antara Anda, ibunda, isteri, serta saudara-saudara Anda yang lain. Biasakan Anda berkomunikasi dengan wajah senyum, meski sedang menghadapi masalah.

Kedua, banyak-banyaklah berinfaq dan bersedekah pada kerabat terdekat (saudara, dan tetangga yang fakir miskin), selagi Anda masih bisa menutup kewajiban keluarga di rumah, perbanyaklah sedekah. Insya Allah ini dapat mendatangkan banyak kelimpahan rezeki Anda, juga kemudahan-kemudahan dalam menghadapi masalah.

Ketiga, cobalah Anda memberikan hadiah-hadiah yang ibunda Anda sukai, baik makanan maupun barang lainnya. Memberikan hadiah, dalam Islam, sangat dianjurkan karena dapat meningkatkan rasa kasih sayang.

Semoga dengan cara-cara di atas, Anda mendapat jalan keluar yang terbaik yang diridhoi oleh Allah SWT, serta membawa kebaikan bagi semua orang yang Anda cintai. Wallaahu a’alam.

Wassalaam,


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>