Indonesia Akan Dirikan Universitas Islam Internasional

Pemerintah bermaksud mendirikan Universitas Islam Internasional atau yang juga disebut Graduate University of Islamic Studies (GUIS). Rencana pendirian perguruan tinggi ini terus dibahas dan dimatangkan.

Menurut Sekjen Kemenag Nur Syam, sebagai bangsa dengan umat Islam terbesar di dunia, sudah sewajarnya Indonesia mempunya perguruan tinggi Islam berskala internasional. Kamis (29/10/2015) lalu, sejumlah pejabat berkumpul di Rumah Dinas Wakil Presiden, Jusuf Kalla, untuk melakukan pembahasan mengenai rencana pendirian Universitas Islam Internasional (UII).

Hadir di dalam acara ini Wapres Jusuf Kalla, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Ristekdikti Muhammad Nasir, Menteri PAN-RB Yuddi Chrisnandi, Wamenlu Muhammad Fachir, Seswapres Mohammad Oemar, Sekjen Kemenag Nur Syam, Dirjen Pendis Kamaruddin Amin, dan Deputi SDM Bappenas Subandi, serta tokoh dan pakar lintas keahlian, misalnya Komaruddin Hidayat, Bachtiar Effendi, Marsudi Syuhud (NU), Imam Addaruquthni (Muhammadiyah), Quraisy Syihab, Alwi Syihab, Jimly Ash Shiddiqi, dan sejumlah intelektual Muslim lainnya.

“Universitas Islam Internasional yang didesain untuk bisa menjadi ikon bagi pengembangan studi Islam ini, hanya akan mengembangan program strata dua dan tiga,” kata Nur Syam. Perguruan tinggi ini diharapkan akan menghasilkan ahli-ahli riset tentang ilmu keislaman yang mumpuni dan berwawasan kemajuan.

“Lahirnya Graduate University of Islamic Studies (GUIS), bukan pada banyaknya alumni yang dihasilkan, akan tetapi pada kualitas alumni yang diproduksinya,” jelasnya, Minggu (1/11/2015).

Mantan Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya ini memandang bahwa pengembangan ilmu keislaman (Islamic Studies) di Indonesia sudah mengenal dua pola atau dua arah, yaitu: arah pengembangan studi Islam murni (pure Islamic studies) dan ilmu keislaman integrative (integrative Islamic studies). Pola pertama dikembangkan melalui pendirian Ma’had Ali dengan berbagai variasi keilmuannya, lalu untuk mengembangkan integrasi ilmu didirikan berbagai UIN dengan varian program studinya.

“Keduanya merupakan bagian tidak terpisahkan di dalam kerangka pengembangan ilmu keislaman, yang ke depan diharapkan akan lebih relevan dengan kebutuhan umat beragama di dunia internasional,” tegasnya.

Mencermati kedua arah pengembangan ilmu keislaman tersebut, Nur Syam berpandangan tentang pentingnya menjelaskan kekhususan dan keunggulan dari GUIIS ini. Ini penting agar alumni GUIS nantinya jangan sampai kualitasnya berada di bawah Ma’had Ali atau PTKIN. Salah satu distingsi yang harus diperkuat adalah riset dan bahasa. Dari distingsi ini diharapkan akan memunculkan ekselensi yang merupakan keunggulannya.

Mengutip pendapat Jusuf Kalla, Nur Syam menambahkan bahwa dunia internasional sekarang ini lebih tertarik pada Islam Indonesia. Mereka semua heran bagaimana Islam Indonesia bisa rukun dan damai. Sementara di Timur Tengah terjadi konflik yang belum jelas kapan selesainya.

“Sejak perang Irak, kondisi Timur Tengah terus dilanda perang saudara hingga saat ini. Itulah sebabnya, Islam Indonesia harus tampil ke depan untuk memimpin dunia. Islam Indonesia adalah contoh terbaik tentang bagaimana Islam dapat menjadi lokomotif bagi tumbuh kembangnya demokrasi dan kemajuan,” katanya.

Ke depan, menurut Nur Syam, harus ada lembaga pendidikan yang dapat menjawab tantangan zaman dan itu justru dipertaruhkannya kepada Islam Indonesia. “”Tidak ada lain, yang harus diperbuat dalam waktu secepatnya adalah mendirikan pendidikan tinggi yang ikonik dan memiliki jangkauan wawasan yang luas dan keislaman yang mendalam,” jelas Nus Syam, seperti diberitakan laman Kemenag.(sumber: hidayatullah)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>