Seorang Muslim Menjadi Komunis, Bolehkah?

Komunisme menjadi isu yang kerap diperbincangkan ketika September mulai memasuki masa akhir. Di negeri ini, paham komunis melalui Partai Komunis Indonesia (PKI) menjejak catatan panjang sejarah republik. Noktah merah yang dicatat kaum komunis pada peristiwa 1948 dan 1965 membuktikan jika paham tersebut sungguh berbahaya dan mengancam jiwa umat manusia.

Ajaran komunisme bersumber dari Karl Marx. Ideologi ini tidak mengakui adanya penciptaan dan prinsip ketuhanan. Karl Marx secara nyata mendiskreditkan agama. Kutipan terkenal dari Marx tercatat dalam salah satu karyanya, A Contribution to The Critique of Hegels Philosophy Right. Dia menyatakan, Die Religion … ist das Opium des Volkes. Artinya, agama adalah opium bagi masyarakat.

Ayat-ayat Alquran pun sudah sedari awal menyindir tentang prinsip-prinsip komunisme. “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya, mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).” (QS at-Thur: 35-36).

Lewat Tafsir Fizhilalil Quran, Said Quthb menjelaskan, keberadaan manusia tanpa sesuatu merupakan perkara yang diingkari sejak dini oleh penalaran dan tidak bisa diperdebatkan lagi. Kalaulah keberadaan mereka sebagai pencipta diri sendiri, hal itu tidak pernah dilontarkan atau di klaim seorang pun. Jika kedua hipotesis ini tidak dapat diterima fitrah penalaran, tiada lagi kebenaran kecuali yang dikatakan Alquran.

Kebenaran itu ialah bahwa mereka semua merupakan makh luk Allah Yang Esa. Allah yang tidak bermitra dengan siapa pun dalam menciptakan dan menjadikan makhluk. Karena itu, tidak ada sesuatu pun dilibatkan dalam penghambaan dan peribadatan terhadap-Nya.

Alquran pun menghadapi mereka dengan keberadaan langit dan bumi. Apa kah mereka yang telah menciptakannya? Langit dan bumi tidak tercipta dengan sendirinya, sebagaimana mereka tidak menciptakan dirinya sendiri.

Mereka pun tidak dapat mengatakan bahwa langit dan bumi tercipta oleh diri sendiri atau tercipta tanpa ada yang mencipta kannya. Demikian, logika tidak memungkinkan untuk mengata kan bahwa mereka yang menciptakan langit dan bumi. Hal ini mengendap dalam benak mereka sebagai pertanyaan dinamis yang harus memiliki jawaban.

Quraish Shihab dalam Tafsir Al Mishbah menjelaskan, ayat tersebut seolah mempertanyakan apakah manusia diciptakan tanpa sesuatu yang hidup, sehingga mereka layaknya benda tak bernyawa. Dengan demikian, mereka tidak perlu menyembah Allah dan tidak juga akan diminta pertanggungjawaban?

Jawabannya tidak! Atau apakah mereka diciptakan tanpa tujuan dan hanya merupakan kesia-siaan, sehingga tidak akan diberi balasan dan ganjaran? Apa pun maknanya, yang jelas jawaban pertanyaan ini adalah tidak.

Sedangkan, firman-Nya pada ayat 36 dapat juga berarti: Apa kah mereka yang menciptakan alam raya ini dan dengan demi ki an mereka adalah tuhan-tuhan yang tidak perlu menyembah se suatu? Tidak! Bukan mereka yang menciptakannya dan mereka pun menyadari hal tersebut. Mereka enggan beriman karena memang mereka tidak mau percaya kepadamu, wahai Nabi Muhammad. Apa yang ada dalam ayat ini terasa relevan dengan prinsip komunisme sekarang.

Syekh Yusuf Qaradhawi dalam Fiqih Kontemporer menjelaskan, komunisme merupakan paham materialis yang tidak mengakui sesuatu kecuali bersifat kebendaan dan terjangkau bagi pancaindra. Komunisme juga tidak mengakui sesuatu yang ada di balik materi (immateri). Mereka tidak beriman kepada Allah, tidak percaya kepada akhirat, dan perkara gaib lainnya.

Syekh Qaradhawi pun berpendapat, seorang Muslim berpaham komunis adalah murtad atau keluar dari Islam. Meski, jika si komunis itu hanya mengambil sisi sosial dan ekonomi dari sisi komunisme, bukan dari sisi agama. Menurut Qaradhawi, yang demikian itu sudah cukup menjadikan orang tersebut murtad.

Syekh Qaradhawi beralasan, Islam memiliki ajaran-ajaran yang tegas dan jelas dalam mengatur kehidupan ekonomi. Prinsip ini ditentang oleh komunisme. Contohnya, kepemilikan pribadi, kewarisan, zakat, dan hubungan lelaki dengan perempuan. Hukum-hukum ini merupakan bagian dari prinsip agama di dalam Islam.

Ulama kenamaan Saudi Syekh Muhammad Salih Al Mu najjid men jelaskan, tidak mungkin seorang Muslim bisa menjadi komunis dalam waktu bersamaan. Dua paham ini saling bertentangan. Tidak bisa ada pada satu individu tanpa salah satunya dieliminasi. Barang siapa yang menjadi komunis maka dia bukanlah Muslim.

Menurut Syekh Muhammad Salih, komunisme termasuk bentuk kekafiran yang nyata karena seorang komunis tidak mengakui keberadaan Allah SWT. Mereka pun tidak mengakui adanya du nia yang tidak terlihat. Komunis me juga kerap melecehkan agama Allah dan mencemooh aturan dan nilai-nilai moral di dalamnya.

Akhirul kalam, mengutip dari pernyataan KH Salahuddin Wa hid, komunisme hanya bisa tum buh dan hidup dalam masyarakat yang subur untuk paham itu. Ma sya rakat yang penuh dengan ketidakadilan, kemunafikan, kemiskinan, kebodohan, keterbelakang an, dan berbagai penyakit sosial lainnya.

Untuk memberantas komunisme, kita harus menjawab tantangan itu dengan berjuang menghilangkan lahan yang subur untuk tumbuhnya paham tersebut. Karena itu, umat Islam harus berjihad menghilangkan ketidakadilan, korupsi, kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan, dan penyakit masyarakat lainnya. Wallahu’alam. (sumber: ROL)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>