Taman Bermain Ali Baba Dianggap Bukti Islamisasi Jerman

Taman bermain bertema “Ali Baba dan 40 Penyamun” yang sedang dibangun di distrik Neukölln, Berlin, mengundang kontroversi, yang mana sebagian kalangan melihatnya sebagai bukti islamisasi Jerman.

Sebuah masjid kayu, atau istana, dihiasi dengan bulan sabit di atasnya, berdiri di tanah berpasir. Menara-menara kecil berwarna biru menjulang di sisinya. Tampak pula pohon-pohon palem dan hewan unta di sekitarnya.

Pemandangan itu diciptakan untuk menghadirkan imajinasi seperti digambarkan dalam buku cerita anak dan film semacam “Aladdin.”

Bagi sebagian orang, tempat itu semata-mata lokasi di mana anak-anak dapat bermain di dunia fantasi. Akan tetapi, bagi sebagian lain itu merupakan bukti islamisasi yang merambah Jerman, lapor Deutsche Welle Sabtu (4/11/2017).

“Taman bermain dilengkapi masjid – islamisasi sedang melaju!” tulis Carsten Ubbelohde, politisi di Berlin yang bergabung dengan partai rasis AfD, di akun Twitter.

“Neukölln: taman bermain dengan masjid mini. Indoktrinasi telah terjadi di kalangan usia dini. Kasihan Jerman. Rakyat layak untuk marah,” kata pemilik akun @anna_lina.

Bagi sebagian orang lainnya, perdebatan soal taman bermain itu merupakan kebodohan dan tanda kebencian terhadap Muslim.

“Saya pasti memiliki masa kanak-kanak yang hebat, saya teringat Aladdin ketika melihat taman bermain ini. Sayang sekali tidak semua orang melihatnya demikian,” kata Roman Francesco lewat Twitter.

“Jika orang-orang di AfD sudah sebegitu hebohnya soal taman bermain di Neukölln, kepala mereka bakalan meletus dalam waktu dua pekan.- lalu tampak bulan sabit di atas langit Berlin!” sindir Stefan Heinrich dengan nada bercanda, merujuk bulan purnama yang sedang tampak di Berlin.

Taman bermain itu belum akan rampung akhir tahun ini, tetapi wali kota Neukölln melihat diskusi yang merebak sudah keterlaluan dan tidak masuk akal.

Wali Kota Franziska Giffey mengatakan kepada koran Berliner Morgenpost bahwa taman-taman bermain lain di distrik itu sudah lebih dulu dibangun berdasarkan tema dari cerita dongeng, seperti “Captain Bluebear” serta “Putri Salju dan Tujuh Kurcaci.”

Keputusan untuk membuat taman bermain dengan tema “Ali Baba dan 40 Penyamun” dibuat bersama dengan pengurus dua taman kanak-kanak setempat, yang salah satunya memiliki nama sama, kata Giffey.

Kepala sekolah TK Ali Baba dan 40 Penyamun, Guldan Yilmaz asal Turki, mengaku terkejut dengan tanggapan dari sebagian orang terhadap taman bermain itu.

“Ketika saya melihat kubah, saya senang seperti anak kecil. Saya tidak akan pernah berpikir bentuk itu berkaitan dengan masjid,” katanya kepada Berliner Morgenpost. “Orang seharusnya tidak menjadikan mainan sebagai politik.”

Sampai saat ini, anak-anak belum perhatian terhadap taman bermain yang baru itu. Mereka hanya bahagia mengetahui akan ada taman baru menggantikan tempat bermain lama yang sudah rusak.

Kebanyakan penduduk setempat juga tidak meributkan taman bermain tersebut, lapor Deutsche Welle.“Bulan sabit tidak mengusik saya, jika memang cocok dengan tema Aladdin,” kata Mechtild Weinmann kepada T-online.

Warga setempat lainnya, Juliana Naumann, mengatakan tempat bermain itu “cantik.” “Bulan sabitnya cocok. Banyak orang yang tinggal di sekitar sini punya latar belakang Muslim,” ujarnya.

Serkan Korkmaz, asal Turki, memiliki pendapat bertentangan.

“Di satu sisi saya melihatnya bagus bahwa kebudayaan lain juga terwakili di sini. Di sisi lain, hal itu memprovokasi orang-orang yang melihat bulan sabit sebagai tanda islamisasi. Mungkin seseorang harus memperhatikan masalah itu,” katanya kepada T-online. (sumber: hidayatullah)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>