Ibnu Abbas: Jangan Ada Rasa Malu dan Sombong dalam Menuntut Ilmu

Abdullah bin Abbas ra dijuluki Hibrul-Umamah dan Bahrul-Ulum pada masanya. Sebab, ia terkenal akan semangatnya dalam mencari ilmu. Tidak ada rasa malu dan sombong dalam diri Ibnu Abbas ra ketika menuntut ilmu sehingga ia memiliki kedudukan yang istimewa di mata para sahabat.

Abdullah Umar ra berkata, “ Orang yang paling istimewa mengetahui Asbabun-Nuzul adalah abdullah bin Abbas.” Selain itu Umar ra telah menempatkan Abdullah bin Abbas di deretan alim ulama terkemuka.

Dikutip dari Buku yang berjudul “Himpunan Fadhilah Amal” karya Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi Rah.a., bahwa Abdullah bin Abbas ra menceritakan kisahnya setelah wafanya Rasulullah SAW. Pada saat itu, ia mengajak seorang sahabat Anshar untuk belajar dan menghafalkan kembali ilmu-ilmu agama. Namun sahabat Anshar ini berkata, “Apakah orang-orang akan datang menanyakan masalah agama kepadamu, padahal para sahabat itu masih hidup?”

Memang jumlah sahabat ketika itu masih banyak. Namun ,orang-orang sudah tidak memperhatikan hal yang dikemukakan Ibnu Abbas ra. Singkatnya, sahabat Anshar itu tidak bersedia mengikuti Ibnu Abbas ra.

Ibnu Abbas ra merasa tertinggal jauh dalam masalah agama. Jika ada yang mengatakan bahwa ada seseorang mengetahui suatu ilmu atau mengaku telah mendengarnya dari Rasulullah SAW, maka ia akan menemuinya dan membuktikannya.

Kebanyakan ilmu yang ia dapatkan berasal dari kaum Anshar. Ia akan menjumpai beberapa orang sahabat dan menanyakan keberadaanya. Jika mereka sedang tidur di rumahnya, maka ia akan menghamparkan kain untuk duduk sambil menunggu di depan rumah sahabat. Sehingga muka dan tubuhnya kotor oleh debu dan pasir, walaupun demikian, ia tetap duduk menunggu.

Setelah sahabat yang ditunggunya bangun, maka Ibnu Abbas akan bertanya mengenai masalah yang terjadi dan maksud kedatangannya. Sebagian sahabat berkata, “Engkau adalah keponakan Rasulullah SAW, mengapa engkau menyusahkan diri, mengapa engkau tidak memanggilku saja?” Jabaw Ibnu Abbas ra, “Aku sedang menuntut ilmu, jadi akulah yang wajib mendatangimu.”

Sebagian sahabat yang terbangun tidurnya setelah ia datangi akan bertanya, “Sejak kapan engkau duduk dan menungguku?” Jawabnya, “Cukup lama.” Mereka berkata, “Engkau telah berbuat sesuatu yang tidak layak, mengapa tidak memberitahu sebelumnya?” Jawab Ibnu Abbas ra, “Aku tidak ingin hajatmu tertunda karena kepentinganku.”

Ia terus mempelajari ilmu dari sahabat-sahabat Anshar. Hingga suatu ketika, banyak orang yang belajar ilmu darinya. Seorang sahabat Anshar tadi baru menyadari dan berkata, “Anak itu ternyata lebih cerdas daripada kita.” (Darami).

Ibnu Abbas terkenal akan kecerdasannya, sehingga ketika ia wafat banyak sahabat yang merasa kehilangan. Muhammad, anak laki-laki Ali bin Abu Thalib berkata, “Imam Rabbani umat ini telah meninggalkan kita.” (sumber: ROL)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>