Ashalina Safa Malaika Terus Dalami Ajaran Islam

Setelah memeluk Islam, Ashalina Safa Malaika (24 tahun) berusaha untuk lebih mendalami ajaran agama tersebut. Dia belajar membaca Al quran dan memahami makna yang terkandung di dalamnya. Dia juga mempelajari hadis dan sirah Nabawiyah, sehingga menghayati perjuangan dan keteladanan Rasulullah.

Dengan begitu, dia merasakan kedamaian dalam beragama. “Awalnya sempat khawatir, tetapi kemudian menguatkan hati, tidak masalah jika orang tua marah, bah kan hingga dicoret dari kartu keluarga,” ujar dia.

Wanita tersebut tetap tinggal di Jepang hingga menyelesaikan pendidikan sarjananya. Sejak menjadi Muslim, dia telah berkomitmen untuk berkerudung, meskipun sulit untuk mencari jilbab yang syar’i.

Pada 2016 situasi Jepang sedang ramai dengan gaya busana harajuku dengan kulot lebar. Asha memilih banyak membeli kulotkulot tersebut dan jaket yang gombrong sebagai pakaian Muslim. Sebagai pencinta cosplay dia tidak terlalu sulit untuk meninggalkannya karena sejak 2014 dia sudah perlahan melupakan hobinya tersebut. Begitu juga dengan makanan, Asha bukan orang yang suka minuman beralkohol, keluarganya pun memiliki gaya hidup sehat.

Meski keluarga itu mengonsumsi babi, dia sejak kecil tidak terlalu suka makan babi karena lebih suka makan daging sapi. Setelah menjadi Muslim, dia mulai untuk memilah makanan yang halal dan yang haram. Asha juga mendapat banyak perhatian dari teman-teman Muslim, apalagi ketika berdekatan dengan hari raya Idul Fitri. Mereka terkejut saat melihat Asha shalat Ied dan banyak yang merangkulnya. “Aku ti dak terlalu memikirkan pendapat orang, meski beberapa teman gereja ada yang me nebar gosip, aku tidak ambil pusing,” jelasnya.

Tak hanya mempelajari halal dan haram, Asha juga mulai belajar shalat sesuai syariat. Dia juga tak lupa belajar mengaji. Tapi, karena kesibukan, dia hanya baru bisa belajar Iqra.

Pada 2017 akhirnya dia menjadi sarjana, Asha sempat berpikir untuk mencari pekerjaan di Jepang. Namun, sebagai Muslim, agak sulit hidup sebagai minoritas, sehingga dia memilih untuk pulang ke Indonesia. Setibanya di Indonesia, dia masih bimbang untuk memberitahukan keislamannya, Asha memutuskan untuk menunda untuk menjelaskan hal tersebut. Selama satu tahun, dia bersembunyi dari keluarganya.

“Saat aku pulang, aku mencari cara untuk memberitahu orang tua. Tapi nggak langsung bilang dan terpaksa membuka jilbab,” ujar dia.

Meski membuka jilbab, dia tetap berpakaian tertutup, hanya saja masih ada beberapa anggota badan yang terlihat. Dia tidak memakai kerudung jika pergi bersama keluarga, tetapi jika pergi sendiri, dia akan memakainya diam-diam. “Aku biasanya menyetir mobil sampai ke tengah kompleks rumah, baru pakai kerudung. Sampai di rumah, biasanya kerudung aku titip ke asisten rumah tangga, dia juga yang mencuci. Begitu juga soal makanan, dia akan memasak makanan yang halal buatku atau akan memberi tahu jika ada makanan yang tidak halal,” jelas dia.

Dalam menutupi keislamannya, orang tua tidak pernah menaruh curiga. Orang tuanya berpikir bahwa kebiasaannya kini karena gaya hidup yang dilakukannya ketika di Jepang.

Asha kini memang bersikap lebih santun kepada orang yang lebih tua. Pakaian yang dikenakan pun lebih tertutup, begitu ju ga dengan make up yang dipoles, tidak terlalu tebal. Asha mengatakan, sebelum menjadi Muslim, sopan santun kepada orang tua kurang diperhatikan. Nada-nada tinggi hal yang lumrah ketika berbicara dengan kedua orang tuanya.

Selama di Jakarta, Asha memang selalu mencuri kesempatan mengaji. Hanya ketika orang tuanya pulang ke Belitung atau tidak di rumah, dia bebas untuk beribadah, memakai jilbab, dan mengaji. Asha pun berkenalan dengan Hanny Kristianto, pendiri mualaf center Indonesia. Dia mengarahkan dan memediasi Asha dengan keluarganya.

Selama enam bulan sejak di Indonesia, Asha tak sering mengikuti kegiatan. Dia berusaha mencari pekerjaan, tetapi dunia fashion banyak menolak kehadirannya karena memakai jilbab.

“Akhirnya, aku dikenalkan dengan Hijab Alila, tetapi syaratnya harus berjilbab setiap hari, sedangkan aku masih buka tutup jilbab. Meski tidak bekerja di sana, aku ikut mengaji, halaqah bareng, dan kadang juga mendengarkan ceramah Ustaz Felix Siaw,” jelasnya.

Hingga Juli 2018, Asha sudah tidak bisa bertahan untuk menutupinya. Dia ingin bisa bebas shalat, mengaji, dan memakai jilbab. Akhirnya, Koh Hanny, sapaan akrabnya, meminta Asha untuk jujur dengan orang tuanya, tetapi tidak secara langsung. Ini untuk menghindari adanya kekerasan fisik ataupun emosi yang memuncak.

“Aku SMS papah dan mamah waktu mereka pulang ke Belitung, sejak saat itu, aku mengungsi ke pesantren mualaf Koh Hanny di Kota Wisata, Cibubur, karena takut saudara ada yang mendatangiku dan memaksa aku untuk menemui keluarga. Aku hanya berani bertemu keluarga jika ada Koh Hanny yang memediasi,” ujar dia.

Kemudian, tiga hari berikutnya, Koh Hanny dan Asha bertemu dengan keluarga Asha di sebuah restoran. Ini salah satu cara agar keluarga mereka tetap berpikiran dingin karena berada di ruang publik. “Papah mau menerima karena selain Koh Hanny yang sesama Tionghoa, mereka juga pria dewasa yang paham budaya mereka. Papahku pun menerima penjelasan mengenai keislaman aku,” tuturnya.

Keluarga Asha harus membuat perjanjian untuk tidak menghalanginya beribadah, mengaji, dan mengenakan jilbab. Meski mereka menerima, terkadang mamanya masih merasa sedih karena tak lagi bisa bergaul bebas bersama. Biasanya, mereka mengenakan pakaian yang terbuka dengan gaya rambut yang berganti-ganti, tetapi kini Asha berpakaian lebih sederhana dan menutup aurat.

Sejak menjadi Muslim, Asha berusaha menjalani Islam yang kafah. Kerudungnya menjadi lebih syar’i. Karena bisa berkomitmen, dia akhirnya memutuskan bergabung dengan Hijab Alila sebagai desainer. Sejak terbuka, keluarga besar Asha pun menerima. Islam yang dijalani Asha pun tidak aneh, justru sikap Asha terbukti semakin baik.

Inilah yang sebenarnya ingin dibuktikan Asha kepada keluarganya. Asha berusaha mengenalkan Islam yang baik dan damai. Meski terkadang mamanya masih sering meminta Asha untuk tak terlalu ketat dengan masalah pakaian. Apalagi, ketika Asha memutuskan mengenakan cadar, Papahnya pun ikut berkomentar yang tidak enak. Namun, Asha tetap sabar dalam menghadapinya.

“Di rumah ada pekerja laki-laki, tentu ada batasan mahram, jadi aku memang tetap berjilbab di rumah. Orang tuaku merasa aneh karena aku berjilbab di rumah, mereka merasa aku terlalu ekstrem. Padahal, aku menjalani Islam sesuai syariat yang mereka tidak mengerti adalah ada batasan mahram,” jelas dia. Terkadang, Asha merasa sedih, tapi dia tetap berdoa agar keluarganya mendapatkan hidayah. Meski tak tahu kapan Allah akan memberikan keluarganya hidayah.

Setelah Asha terbuka dengan keluarganya, Asha mulai menapaki jalan hidupnya yang lain. Dia bercita-cita untuk menikah muda dan menjadi ibu rumah tangga. Aneh memang karena biasanya wanita Cina sangat bertekad untuk berkarier.

Namun, Asha berbeda, sebagai Muslim dia ingin mengabdikan dirinya pada suami, meski harus meninggalkan gelar sarjananya. Maret 2019, Asha memutuskan me nikah. Tidak mudah mendapatkan perse tujuan menikah. Sebenarnya, suaminya sempat dijadikan salah satu sebab konflik keluarganya.

Orang tuanya menuduh Asha memeluk Islam karena berkenalan dengan suaminya. Padahal, Asha memeluk Islam jauh sebelum dekat dengan suaminya tersebut. Memang, Asha telah lama mengenal suaminya tersebut karena mereka memiliki hobi yang sama dan sering datang ke acara-acara cosplay. Tetapi, mereka tidak pernah tegur sapa, bahkan berbicara.

Baru, ketika mengunggah salah satu artikel tentang Islam, ahli TI yang kini menjadi suaminya ini menyapa melalui dunia maya. Pria yang juga keturunan Cina ini langsung meminta wanita itu menjadi istrinya setelah mengetahui dia Muslim. Ketika itu, Asha baru saja pulang ke Indonesia. Namun, Asha meminta waktu karena dia ingin menyelesaikan masalah keislamannya dengan kedua orang tuanya.

Asha juga meminta Kevin, nama suaminya, untuk memperdalam agama selagi menunggunya. Benar saja, setelah masalah keluarga selesai, Kevin mendatangi keluarganya untuk melamar. Awalnya, keluarga Asha menolak, tetapi karena mendapat penjelasan dari kakak dan tante Asha, papahnya pun luluh. Mereka menikah dan kini mereka sedang menunggu kelahiran sang buah hati.

Asha pun memutuskan untuk fokus mengurus suami dan rumah sembari dia mendalami ilmu agama dalam berbagai kajian. Kini, dia hanya ingin membuktikan kepada keluarganya bahwa keluarga Muslim yang dibentuknya adalah keluarga yang hangat dan damai.

Asha selalu menyempatkan bertemu dengan keluarganya ketika mereka datang ke Jakarta. Begitu juga dengan komunikasi yang tidak pernah terputus baik dengan orang tua dan juga adik serta kakaknya. (sumber: ROL)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>