Kategori: Iman

Lima Indikator Kesengsaraan Menurut Fudhail bin Iyadh

Dalam kitabnya yang berjudul “Madāriju al-Sālikīn” (2/249), Imam Ibnu al-Qayyim al-Jauziah menukil untaian hikmah menarik dari seorang tabi`in kenamaan, bernama: Fudhail bin Iyādh. Kata-katanya, kurang lebih demikian:

خَمْسٌ مِنْ عَلَامَاتِ الشِّقْوَةِ: الْقَسْوَةُ فِي الْقَلْبِ. وَجُمُودُ الْعَيْنِ. وَقِلَّةُ الْحَيَاءِ. وَالرَّغْبَةُ فِي الدُّنْيَا. وَطُولُ الْأَمَلِ.

“Ada lima indikator kesengsaraan: hati yang keras, air mata membeku, rasa malu berkurang, cinta dunia, dan panjang angan-angan.”

Khusyuk yang Kian Menghilang

Kini, pudarnya rasa khusyuk mulai menghampiri umat Islam. Hal itu telah diprediksikan oleh sejumlah salaf. Khusyuk tak lagi menjadi pemandangan lazim, layaknya shalat yang ditunjukkan oleh kalangan salaf. Bahkan, mereka menegaskan bahwa kekhusyukan termasuk perkara yang pertama kali hilang dan dicabut dari umat, selain ilmu.

Umat masa kini cenderung terperangah dengan persoalan duniawi. Kesibukan mengurus urusan materi mengalihkan konsentrasi memperoleh khusyukan dalam shalat yang mereka kerjakan setiap harinya.

Awas Bahaya Riya

Dalam sebuah hadis, Rasulullah bercerita, ”Di hari kiamat nanti ada orang yang mati syahid diperintahkan oleh Allah untuk masuk ke neraka. Lalu orang itu melakukan protes, ‘Wahai Tuhanku, aku ini telah mati syahid dalam perjuangan membela agama-Mu, mengapa aku dimasukkan ke neraka?’ Allah menjawab, ‘Kamu berdusta dalam berjuang. Kamu hanya ingin mendapatkan pujian dari orang lain, agar dirimu dikatakan sebagai pemberani.

Dan, apabila pujian itu telah dikatakan oleh mereka, maka itulah sebagai balasan dari perjuanganmu’.” Orang yang berjuang atau beribadah demi sesuatu yang bukan ikhlas karena Allah SWT, dalam agama disebut riya. Sepintas, sifat riya merupakan perkara yang sepele, namun akibatnya sangat fatal. Sifat riya dapat memberangus seluruh amal kebaikan, bagaikan air hujan yang menimpa debu di atas bebatuan. Allah SWT berfirman, ”Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (Al-Furqan: 23).

Saat Sangkakala Ditiup

Dalam kitabnya Al-Ahwal, Ibn Abi Ad Dunya yang merupakan murid dari Sa’id bin Salman menyebutkan tentang dalil-dalil yang menguatkan terompet ( asshuur) kiamat. Sebuah riwayat menyebutkan, alat itu terbuat dari bahan semacam tanduk binatang. Apa dan bagaimana tak bisa diketahui pasti. Yang jelas, trompet akan digunakan sebagai pertanda hari kiamat benar-benar telah datang.

Tak disebutkan, siapakah nama malaikat yang bertugas meniup trompet itu (diriwayat lainnya nama Israfil mengemuka sebagai malaikat yang ditugasi untuk meniup trompet). Hanya ada keterangan bahwa di sebelah kanan malaikat tersebut berdiri Jibril dan sebelah kirinya Mikail. Sang peniup sangkakala itu, sebagaimana disebutkan riwayat lainnya, tengah siap sedia menjalankan tugasnya.

Mengenali Pintu Masuk Setan

Semenjak permusuhan iblis dengan Adam di surga, Allah sudah mewartakan dalam al-Qur`an bahwa dia bersama segenap keturunannya adalah musuh yang nyata bagi manusia.

Karenanya dalam surah al-Baqarah ayat 208, Allah melarang langkah-langkah atau jejak-jejak setan diikuti, mengingat sejatinya setan adalah musuh nyata bagi manusia. Bagaimana manusia mengetahui langkah-langkah iblis dan setan, sementara mereka ghaib bagi manusia?