Kategori: Iman

Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijah

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada hari di mana amal saleh pada hari itu lebih dicintai Allah ‘Azza wa Jalla daripada hari-hari ini–yakni 10 hari pertama Dzulhijah.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?” Beliau menjawab, “Tidak juga jihad fi sabilillah kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa, raga, dan hartanya, kemudian tidak bersisa lagi” (HR Bukhari). Kalau pada Ramadan, ada 10 hari terakhir yang mulia. Sebab, di dalamnya umat menanti Lailatul Qadar.

Rasa Takut kepada Allah SWT

Takut merupakan suatu sikap mengenai pedihnya hati karena dugaan terjadinya sesuatu yang tidak disukai pada masa depan. Rasa takut kepada Allah muncul karena pengetahuan mengenai Zat yang Agung itu dan sifat-sifat-Nya. Seandainya Dia menghancurkan alam semesta, tidak akan ada yang dapat menghalangi-Nya.

Rasa takut kepada Allah muncul terkadang karena banyaknya dosa seorang hamba yang melakukan berbagai kemaksiatan. Rasa takut itu pun terkadang muncul karena dua hal tersebut—pengetahuan dan dosa—secara bersama-sama. Rasa takut tumbuh sesuai dengan tingkat pengetahuannya mengenai kekurangan dirinya dan keagungan Allah SWT. Dia pun yakin jika Allah tidak dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dila kukan-Nya. Berbeda dengan seorang hamba.

Lima Indikator Kesengsaraan Menurut Fudhail bin Iyadh

Dalam kitabnya yang berjudul “Madāriju al-Sālikīn” (2/249), Imam Ibnu al-Qayyim al-Jauziah menukil untaian hikmah menarik dari seorang tabi`in kenamaan, bernama: Fudhail bin Iyādh. Kata-katanya, kurang lebih demikian:

خَمْسٌ مِنْ عَلَامَاتِ الشِّقْوَةِ: الْقَسْوَةُ فِي الْقَلْبِ. وَجُمُودُ الْعَيْنِ. وَقِلَّةُ الْحَيَاءِ. وَالرَّغْبَةُ فِي الدُّنْيَا. وَطُولُ الْأَمَلِ.

“Ada lima indikator kesengsaraan: hati yang keras, air mata membeku, rasa malu berkurang, cinta dunia, dan panjang angan-angan.”

Khusyuk yang Kian Menghilang

Kini, pudarnya rasa khusyuk mulai menghampiri umat Islam. Hal itu telah diprediksikan oleh sejumlah salaf. Khusyuk tak lagi menjadi pemandangan lazim, layaknya shalat yang ditunjukkan oleh kalangan salaf. Bahkan, mereka menegaskan bahwa kekhusyukan termasuk perkara yang pertama kali hilang dan dicabut dari umat, selain ilmu.

Umat masa kini cenderung terperangah dengan persoalan duniawi. Kesibukan mengurus urusan materi mengalihkan konsentrasi memperoleh khusyukan dalam shalat yang mereka kerjakan setiap harinya.

Awas Bahaya Riya

Dalam sebuah hadis, Rasulullah bercerita, ”Di hari kiamat nanti ada orang yang mati syahid diperintahkan oleh Allah untuk masuk ke neraka. Lalu orang itu melakukan protes, ‘Wahai Tuhanku, aku ini telah mati syahid dalam perjuangan membela agama-Mu, mengapa aku dimasukkan ke neraka?’ Allah menjawab, ‘Kamu berdusta dalam berjuang. Kamu hanya ingin mendapatkan pujian dari orang lain, agar dirimu dikatakan sebagai pemberani.

Dan, apabila pujian itu telah dikatakan oleh mereka, maka itulah sebagai balasan dari perjuanganmu’.” Orang yang berjuang atau beribadah demi sesuatu yang bukan ikhlas karena Allah SWT, dalam agama disebut riya. Sepintas, sifat riya merupakan perkara yang sepele, namun akibatnya sangat fatal. Sifat riya dapat memberangus seluruh amal kebaikan, bagaikan air hujan yang menimpa debu di atas bebatuan. Allah SWT berfirman, ”Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (Al-Furqan: 23).