Kategori: Iman

Mengimani Kiamat

Allah SWT memiliki kuasa atas segala hal yang akan terjadi dunia ini, termasuk dalam hal azab. Sebagai umat Islam, percaya adanya azab Allah adalah bentuk keimanan kepada Allah.

Ustaz Bachtiar Nasir dalam kelas tadabur pagi bertajuk “Menantang Azab Allah Adalah Perilaku Kekufuran” di Masjid Raya Pondok Indah, Jakarta, Selasa (8/1), mengatakan, umat Islam wajib memercayai adanya azab Allah. Azab diturunkan bagi me reka orang-orang kafir.

Ciri Mukmin Sejati

Salah satu ciri Mukmin sejati adalah memiliki mental kuat. Selalu bersemangat menjalani kehidupannya dengan berorientasi pada dunia dan akhirat. Kesedihan tak pernah lama merundungnya. Segera berganti dengan semangat dan gairah beribadah serta menebar manfaat.

Sebagaimana Rasulullah SAW mengingatkan, “Orang Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada orang Mukmin yang lemah. Masing-masing ada kebaikannya. Bersemangatlah untuk me ngerjakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirimu, serta mohonlah per tolongan kepada Allah dan janganlah lemah! Kalau tertimpa sesuatu, janganlah kamu mengucapkan, ‘Seandainya aku berbuat be gini tentu akan terjadi begini dan begitu,’ tetapi katakanlah, ‘Apa yang telah diten tukan Allah dan apa yang dikehendaki-Nya pasti akan ter jadi.’ Karena kata ‘seandainya’ itu akan memberi jalan kepada setan,” (HR Muslim).

Yakinlah Selalu kepada Allah

Dalam training motivasi dan seni pengembangan diri, seringkali sang instruktur menyuntikkan kata-kata motivasi dan keyakinan kepada peserta pelatihan. Hal itu jamak didapati karena sebagian manusia memahami bahwa obsesi yang menghujam kuat dan cita-cita yang menjulang tinggi bisa menjadi kekuatan yang powerfull untuk perubahan yang ditekadkan.

Kekuatan itu disebut sanggup menerjang hingga ke alam bawah sadar, merasuki pikiran seseorang, dan menjadi framing atau mindset untuk setiap tindakan yang dikerjakan. Lihat saja, terkadang sebagian orang bahkan sampai merangkai tulisan besar-besar lalu dilengketkan di pintu kamarnya. Ada juga hingga merapal kalimat tertentu sekadar untuk memastikan keyakinan itu terjaga pada diri orang tersebut.

Tiga Indikator Iman

Pagi itu, Rasulullah yang baru saja masuk kamar bergegas keluar kembali ketika sayup-sayup terdengar para sahabat membincangkan sesuatu. Dari pojok masjid yang menyatu dengan rumah yang menjadi kamar beliau, Rasul yang mulia itu menghampiri dan duduk bersimpuh bersama. “Kayfa ashbahtum ya ashhaabii (bagaimana kabar kalian di waktu pagi ini),” tanya Rasul sopan.

“Ashbahna bil iimaan billah (pagi ini kami dalam keadaan diliputi dengan iman kepada Allah),” jawab salah seorang sahabat mewakili.
Dengan senyum yang mengembang di wajahnya, Rasul mengapresiasi jawaban sahabatnya itu dengan balik bertanya, “Maa ‘alamatu iimaanikum (apa indikasi kalian benar-benar dalam keadaan iman)?”

Hadapi Dua Malaikat Kubur, Ini Beda Muslim dan Non-Muslim

Di antara perbedaan antara orang yang beriman dan kufur adalah kemampuan menjawab pertanyaan dua malaikat ketika berada di alam barzakh. Abu Bakar Ahmad bin al-Husain bin Ali bin Musa al-Khasrujaradi al-Baihaqi as-Syafi’I dalam kitabnya yang berjudul Itsbat ‘Adzab al-Qabr wa Sual al-Malakain menjelaskan kemudahan bagi orang yang beriman saat menjawab semua pertanyaan yang diajukan dua malaikat, Munkar dan Nakir.

Penegasan itu termaktub dalam ayat, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS Ibrahim [14]: 27).