Kategori: Muallaf

Hamzah Yusuf Hakikat Kematian Menuntunnya Bersyahadat

Yusuf terlahir dengan nama Mark Hanson dari dua orang tua yang merupakan akademisi di negara ba gian Washington. Dia di be sarkan di California Utara. Anak kedua dari tujuh bersaudara ini memiliki ayah yang bekerja sebagai profesor ilmu sosial. Sementara ibunya adalah lulusan Universitas California di Berkeley.

Dia dibesarkan dalam lingkungan Kristen Ortodoks. Pendidikannya ditem puh di sekolah pesisir timur dan barat negara Amerika Serikat. Saat usianya 12 tahun, kakek dari ibunya mengirim Yusuf dan saudarinya, Nabila, ke Kamp Ortodoks di Yunani untuk belajar agama Katolik. Sepertinya dia diarahkan agar menjadi pendeta pada masa mudanya.

Ruben, Menantang Allah Sebelum Masuk Islam

Ruben Abu Bakr, pria asal Australia yang sangat humoris. Semula, ia adalah seorang atheis. Akan tetapi, belakangan ia berhasrat mencari keberadaan Tuhan. Dia kemudian mempelajari seluruh agama, mulai dari Kristen, Katolik, Budha, Hindu hingga yahudi.

Kisah Ruben bermula ketika ia duduk di bangku kuliah. Kala itu, ia harus menghadapi beragam peristiwa berat. Sahabatnya tewas karena narkoba. Tidak lama kemudian, orang tuanya bercerai. Ia pun dilanda kemiskinan. “Bahkan, anjing peliharaanku pun mati,” tutur Ruben.

Aisha Lemu: Alquran Bukan Buatan Manusia

Tokoh Muslimah di Nigeria ini dilahirkan dengan nama Bridget Aisha Honey di Poole. Dia dibesarkan sebagai seorang Anglikan. Kemudian memeluk Islam, menikahi seorang syekh Nigeria dan menjadi pendidik terkemuka dan pendiri Federasi Asosiasi Wanita Muslim di Nigeria (Fomwan).

“Saya dibesarkan di Gereja Inggris, tetapi tidak dapat memercayai agama yang saya anut. Saya merasakan kebutuhan akan kebenaran dan mulai mencarinya di tempat lain,” kata dia dalam sebuah pidato pada 2002, dilansir dari telegraph.co.uk. Sejak usia 14 tahun, pencariannya telah membawa ke penelitian agama Buddha dan Hindu.

Berjuang demi Hidayah

Anto Wijaya (50 tahun) adalah seorang mualaf Tionghoa yang masuk Islam tiga tahun lalu. Perjuangan warga Jakarta ini memeluk Islam tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dia harus melewati perasaan bimbang tentang Tuhan ketika dia memeluk Kristen dan Buddha.

Di dua agama terdahulunya, dia tidak menemukan keesaan Tuhan. Pencarian tentang ketuhanan tersebut mengantarkannya kepada agama Islam. “Pancasila kan Ketuhanan yang Maha Esa, berarti Tuhan kita satu. Akhirnya saya cari-cari, lalu masuk Islam,” ujar dia kepada Republika.co.id, belum lama ini.

Aysha Rasakan Pengalaman Luar Biasa Saat Berpuasa

Namanya Aysha. Sebutan itu sudah menjadi identitasnya sejak bersyahadat beberapa waktu la lu. Wanita muda ini ber asal dari Hongaria, negeri minoritas Muslim. Berbagai agama tumbuh di sana dengan bebas. Sesekali dia mengenang masa kecilnya sebagai penganut Katholik. Setiap akhir pekan selalu menyempatkan diri mengunjungi gereja untuk sembahyang dan mengucapkan aneka pujian.

Namun, itu bukanlah jaminan keyakinan nya semakin mantap. Meski sering melaksanakan ritual religius tersebut, tetap ada saja rasa yang mengganjal. Ada saja pertanyaan tentang kejelasan konsep Tuhan yang selama ini diyakini. Bagaimana bisa Tuhan memiliki anak? Soal itu sering tebersit dalam hatinya.