Kategori: Muallaf

Aliza Kim Mantan Model yang Memilih Islam

Pragawati, Aliza Kim, selalu menampakkan senyuman dan berusaha menunjukkan dirinya bahagia kepada masyarakat sekitar. Ketika bertatap muka dengan kolega, wanita muda ini tak pernah menunjukkan kemurungan. Dia ingin teman-teman selalu senang ketika bertemu dengannya.

Tapi, senyum dan kebahagiaan Aliza ternyata adalah bentuk kepura- puraan. Senyuman yang selalu ditampakkannya adalah selimut untuk menutupi kegelisahannya tentang bagaimana meraih ketenangan jiwa bersama Sang Ilahi.

Alquran Menggetarkan Hati Catherine Houlihan

Membaca Alquran menjadi hal biasa bagi setiap Muslim. Kitab itu berisikan firman Allah tentang berbagai hal. Ada konsep ketuhanan yang berintikan tauhid atau keesaan Tuhan. Ada juga kisah para nabi dan masih banyak lagi. Semua itu merupakan ajaran dan pedoman hidup yang mengarahkan manusia kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Hal biasa itu ternyata sangat menyentuh hati wanita keturunan Irlandia yang tinggal di Miami Amerika Serikat, Catherine Houlihan (Cat). Pada mulanya dia mendapatkan compact disk(CD) tentang Islam berupa tayangan keagamaan oleh pendakwah Syekh Hamza Yusuf. CD itu dia dapatkan dari wanita yang mengajarkan tentang Islam.

Lynne Penasaran dengan Keistimewaan Shalat

Sebelum menerima hidayah Islam, Lynne M Mcglynn-Aisha menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai seorang ateis dan agnostik. Pengalaman masa lalu yang kelam sekaligus pahitlah yang membuat perempuan itu menolak keberadaan Tuhan.

Dia berkisah, ketika masih kecil, aku kerap pergi ke gereja. Tetapi aku justru dilecehkan dengan sangat buruk oleh pimpinan gereja setempat selama bertahun-tahun, hingga akhirnya aku lari dari rumah ketika berusia 13 tahun. “Sejak saat itu, aku menjalani hidup sendirian,” tutur Lynne membuka kisah hidupnya.

Keith: Hidup Sebagai Muslim Terasa Indah

Membaca sebuah kitab suci sudah menjadi rutinitas Keith, warga Illinois, Amerika Serikat. Sejak kecil dia melakukan itu setiap akhir pekan. Bahkan, dalam tujuh hari, dia bisa menyempatkan tiga hari hanya untuk membaca kitab suci.

Namun, ritual rutin itu tidak membuatnya merasakan ketenangan beragama. Batinnya selalu mempertanyakan apakah ada hal lain yang membuat seseorang lebih bisa merasakan dekat dengan Sang Pencipta. Adakah ajaran yang lebih mengarahkan insan untuk maju, berkembang, sehingga bisa menghasilkan budaya yang mendukung perkembangan hidup.

Anak Punk yang Hijrah Dalami Islam

Istilah punk kerap identik dengan perilaku kurang baik. Itu tidak ditampik Aditya Abdurrahman, seorang dosen Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Ia mengaku pernah sepuluh tahun terlibat dalam komunitas punk sebelum memutuskan hijrah mendalami Islam.

Aik tidak hanya sekadar tergabung dalam komunitas. Ia juga pernah memiliki sebuah band punk. Dan telah menelurkan ratusan lagu dalam tujuh album bersama tiga band yang berbeda. “Saya menjadi anak punk pada 1995 hingga 2006. Setelah itu, saya mulai mendalami Islam,” kata pria yang kerap disapa Aik itu saat memberikan kajian di Masjid Babul Jannah, Suryodiningratan, Yogyakarta Sabtu (5/8).