Kategori: Rasulullah

Ini yang Diteladankan Nabi di Akhir Ramadhan

IBNU Umar Radhiyallahu anhu berkata, ”Rasulullah Shallallahu alayhi wasallam selalu melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari Muslim).

Secara bahasa, menurut Imam Nawawi di dalam Riyadhus Sholihin, i’tikaf berarti menahan, sedangkan secara istilah syariat berarti tinggal di masjid untuk beribadah dalam jangka waktu tertentu.

Demi Allah! Dia Bukanlah Orang Gila

Ketika Rasulullah SAW melakukan dakwah secara terang-terangan, hati kaum Quraisy menjadi gundah-gulana. Memasuki musim Haji, kaum Quraisy tahu bahwa akan banyak orang yang mengunjungi Makkah, oleh karena itu mereka melihat perlunya merangkai satu pernyataan yang nantinya mereka sampaikan kepada delegasi tersebut perihal Muhammad SAW agar dakwah yang disiarkannya tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap jiwa-jiwa delegasi Arab tersebut.

Maka berkumpullah mereka di rumah al-Walid bin al-Mughairah untuk membicarakan satu pernyataan yang tepat dan disepakati bersama tersebut. Lalu Walid berkata “Bersepakatlah kalian dalam satu hal dan janganlah kalian saling berselisih sehingga membuat sebagian kalian saling mendustakan pendapat sebagian yang lain dan sebagian lagi mementahkan pendapat sebagian yang lain!”

Ketika Rasulullah SAW Berkelakar

Suatu ketika Rasulullah saw berbuka puasa dengan para sahabatnya. Menunya, seperti biasa, kurma. Sayyidina Ali bin Abi Thalib duduk di samping Nabi. Keduanya sibuk memakan kurma masing-masing diselingi obrolan ringan.

Tanpa disadari Ali, Nabi menaruh biji kurma miliknya ditumpukan milik menantunya itu. Kontan saja biji kurma milik Ali paling banyak dibanding yang lain. Nabi sendiri tidak memiliki tumpukan biji kurma.

Sirah Nabawiyah Tentang Kisah Masjid Dhirar

Ibnu Katsir meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, Urwah, Qatadah, dan lainnya bahwa di Madinah ada seorang pendeta yang bernama Abu Amir dari Khazraj. Dia adalah seorang pemeluk nasrani yang memilki posisi penting di kalangan kaum Khazraj.

Ketika Rasulullah SAW masuk ke Madinah, menghimpun kekuatan islam dan membangun peradaban kaum muslimin disana, Abu Amir merasa tidak suka dengan keberadaan Rasulullah SAW dan menunjukkan bibit permusuhan. Kemudian dia pergi ke Mekkah untuk mengumpulkan dukungan kaum Kafir Quraisy untuk melawan Rasulullah SAW.

Tiga Alasan Mengapa Istri Rasulullah SAW Lebih dari Empat

Rasulullah SAW memiliki istri lebih dari empat, sejumlah riwayat menyebutkan istri beliau ada 11 orang.

Fakta tersebut memicu cibiran sejumlah kalangan, tak terkecuali orentalis yang hendak memojokkan Islam. Mereka beranggapan, pernikahan tersebut berseberangan dengan tuntunan ajaran Islam itu sendiri yang membatasi pernikahan hanya empat istri saja, seperti ditegaskan dalam surah an-Nisaa’ ayat 3.

Namun, menurut Lembaga Fatwa Mesir, Dar al-Ifta, anggapan negatif tersebut mudah dipatahkan dengan sejumlah argumentasi yang cukup logis dan rasional. Setidaknya ada tiga alasan sederhana mengapa Rasulullah memutuskan menikah lebih dari empat.