Kategori: Rasulullah

Inilah 7 Akhlak Rasulullah pada Pembantunya

ISLAM tidak mengenal kasta, semua makhluk di hadapan Allah subhanahu wa taala derajatnya sama, demikian pula kedudukan pembantu. Islam hanya membedakan orang karena ketakwaan. Sebagaimana dimaklumi, ketakwaan merupakan refleksi dari keimanan seseorang terhadap ajaran Islam. Kita tidak akan dapat mengukur keimanan seseorang.

Iman kadang bertambah dan kadang berkurang. Nah, untuk memupuk keimanan dibutuhkan ketaatan dalam menjalankan syariat Islam. Salah satunya adalah terkait dengan interaksi sosial, yakni bagaimana bermu’amalah dengan para pembantu.

Cara Nabi Berdakwah Kepada Penguasa

Ketika kedudukan umat Islam sudah cukup kuat setelah kaum Muslim hijrah ke Madinah, Rasulullah ﷺ tidak lagi sekadar berdakwah kepada masyarakat kebanyakan, namun juga kepada para penguasa di seputar Madinah. Dakwah beliau kepada para penguasa itu dilakukan lewat surat.

Ketika itu, kaum Muslim baru saja menyepakati perjanjian Hudaibiyah dengan kaum Quraisy. Dalam perjanjian itu kedua belah pihak menyepakati untuk melaksanakan gencatan senjata selama 10 tahun. Waktu gencatan senjata ini dimanfaatkan oleh Rasulullah ﷺ –salah satunya– untuk meluaskan wilayah dakwah ke negara-negara jiran.

Khutbah Rasul Menjelang Ramadhan Tiba

“WAHAI manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.

Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.

Mengenal Istri Nabi Muhammad SAW, Hanya Aisyah yang Gadis Lainnya Janda

Di dalam sejumlah Sirah Nabawiyah disebutkan, keseluruhan istri Nabi Muhammad SAW ada 13. Abdul Hasan ‘Ali al-Hasani an-Nadwi dalam Sirah Nabawiyah menyebut, tak ada perbedaan pendapat bahwa Nabi Muhammad SAW wafat dengan meninggalkan 9 orang istri.

Sang Penghulu Rasul itu juga meninggalkan 2 istri lain dari budak yang pernah dimerdekakannya. Keduanya adalah Mariyah binti Syam’un dan Raihanah binti Zaid. Dua istri lainnya meninggal saat Rasulullah SAW masih hidup. Mereka adalah Siti Khadijah binti Khuwailid dan Zainab binti Khuzaimah.

Ketika Nabi Memuliakan Budak dengan Meminangnya

Pada era jahiliyah, sistem perbudakan kental mewarnai budaya masyarakat Arab. Maka ketika Islam datang, sistem perbudakan perlahan demi perlahan dapat terhapuskan. Hal ini tak lepas dari strategi dan juga dakwah Nabi yang gemilang.

Salah satu istri Nabi, Maria Al-Qibtiyah, merupakan seorang budak asal Mesir yang dimerdekakan Nabi Muhammad SAW. Dalam memuliakannya, Nabi memerdekakan Maria Al-Qibtiyah dengan meminangnya.