Kategori: Sahabat

Sahabat yang Sukses Akhirat, tapi Belum Sempat Shalat

Dalam lembaran sejarah emas sahabat Nabi, ada peristiwa unik yang menunjukkan bahwa letak bernilainya amalan itu ialah bukan pada banyaknya tapi pada kandungan kebaikannya, meskipun sedikit.

Dalam kitab Sirah Nabawiyahnya yang berjudul, “as-Sirah an-Nabawiyah, `Ardhu Waqaai` wa tahlilu Ahdats”, Syeikh. Ali Muhammad Muhammad Shalabi menceritakan: ada sahabat yang hanya bermodal syahadat tulus kemudian ia berjihad hingga gugur syahid. Padahal ia belum sempat shalat apalagi melaksanakan rukun Islam yang lainnya.

Berubah Sekaligus Mengubah

Namanya Mush’ab bin Umair. Para ahli sejarah melukiskan sifatnya dengan “Seorang warga Kota Makkah yang mempunyai nama paling harum.” Bagaimana tidak, Mush’ab adalah pemuda tampan nan gagah. Ia mendapat kemewahan fasilitas dari orang tuanya. Ia adalah idola gadis-gadis Makkah. Saat ia berjalan, bau harumnya masih terasa di jalan-jalan yang ia lalui.

Namun, kala mendengar risalah Allah SWT lewat sosok Nabi Muhammad SAW, hatinya seketika terbuka. Ia tinggalkan semua kenikmatan dunia demi Islam. Namun, sang ibu marah besar mengetahui keimanan Mush’ab.

Islamnya Jagoan Kota Makkah

Ia memiliki julukan sebagai Pedang Allah. Khalid bin al-Walid dikenal lantaran kecerdasan dan ketangguhannya sebagai pemimpin pasukan kuda Quraisy. Tanpa kehadiran Islam di relung hatinya, sosok jenius ini semata-mata jagoan kota Makkah yang berperang demi memperebutkan harta atau sekadar fanatisme kesukuan.

Khalid awalnya termasuk musuh Islam yang paling keras. Dalam Perang Uhud, ia memimpin pasukan kuda Quraisy yang berhasil memukul balik pertahanan kaum Muslimin. Saat itu, pada mulanya kaum kafir Quraisy terdesak sehingga berlarian menyingkir dari tebasan pedang pasukan Muslim.

Mereka yang Ingin Masuk Surga dengan Kaki Pincang

Jalan para Sahabat adalah taman-taman indah, napas juang mereka adalah bunga yang harum. Siapapun yang masuk ke taman itu, maka dia akan merasakan kebahagiaan, kendatipun tidak bisa masuk secara total dan menyelami lautan hikmah yang luas setidaknya bisa memetik bunga kehidupan mereka.

Adalah Amr Jamuh, namanya tercatat dalam 100 Sahabat terbaik dari ribuan Sahabat seperti yang ditulis oleh Mahmud Al Mishri dalam bukunya Ashaburrasul (Ensiklopedi Sahabat; Terj) bahkan dalam buku Dr. Abdul Hamid As-Suhaibani, menempatkan Amr bin Jamuh pada urutan kedua belas.

Doa Rasulullah untuk Keluarga Zaid bin Ashim

Keluarga Zaid bin Ashim merupakan salah satu dari penduduk Yastrib (Madinah) yang pertama-tama beriman kepada Rasulullah SAW. Bersama istrinya, Ummu Amarah Nasibah al-Maziniyah, dan dua putranya, yakni Habib dan Abdullah, Zaid bin Ashim melakukan baiat kepada Nabi Muhammad di Aqabah. Ia sekeluarga termasuk dalam kelompok 70 yang tiba di Makkah dari Yastrib.

Keluarga ini segera menjadi tameng dakwah Rasulullah. Dalam Perang Uhud, Ummu Amarah Nasibah bahkan ikut dalam gelanggang. Adapun Abdullah bin Zaid mempertaruhkan nyawanya demi melindungi Nabi Muhammad dari serbuan pasukan musyrik.