Sebelum Bencana, Warga Nepal Sembahkan 6000 Kerbau untuk Dewi Gadhimai

Pasca gempa berkekuatan 7,9 Richter di Nepal hari Sabtu (25/04/2014) jejaring sosial dibanjiri berbagai berita dan hal-hal terkait musibah yang hingga hari ini diklaim telah mencapai 17.000 orang tewas dan 14.021 orang terluka.

Belum lama ini, di berbagai grup-grup diskusi WhatsApps (WA) banyak beredar video dan foto yang dikaitkan dengan musibah gempa di Nepal berupa ‘pemenggalan’ besar-besaran hewan untuk persembangan para dewa.

“MasyaAllah, ribuan kerbau dibantai di Nepal untuk menghormati para Dewa dalam agama Hindu”, demikian bunyi pesan salah satu anggota grup diskusi di WhatsApps yang didapat redaksi hidayatullah.com, Jumat (01/05/2015) dengan sebuah kirimkan video berupa upacara ‘pemenggalan’ ribuan kerbau.

Dalam waktu tak lama, beberapa foto yang sama sudah beredar pula di grup-grup WA. Beberapa orang, sempat mengirim pernyataan ke redaksi hidayatullah.com guna mengkonfirmasi tentang kebenaran foto dan video tersebut.

Menurut catatan dengan sumber media Barat, sekitar enam bulan lalu sebelum gempa Nepal, tepatnya 28 November 2015, di Nepal ada Festival Gadhimai, sebuah festival perayaan agama Hindu yang diadakan sekali setiap lima tahun di Candi Gadhimai Bariyapur, Distik Bara, sekitar 100 miles (160 KM) selatan Ibu Kota Kathmandu, di Nepal bagian selatan yang berbatasan dengan India.

Perayaan ini melibatkan persembahan hewan (berupa; kerbau, babi, kambing, ayam, dan merpati) terbesar di dunia yang bertujuan menyenangkan Dewi Gadhimai, Sang Dewi Kekuasaan.

Dalam perayaan ini, diperkirakan lebih dari 250.000 hewan dikorbankan untuk menyenangkan dewi-dewi Hindu.

Catatan Reuters mengutip organisasi hak-hak hewan, PETA, yang meminta untuk menghentikan ritual tersebut, festival sebelumnya lebih dari 250.000 burung dipotong.

Festival tersebut diakhiri dengan ritual memenggal 6.000 kerbau di sebuah lapangan dekat kuil tersebut. Ritual itu selesai dilakukan selama dua hari.

Aktivis dari PETA terus-menerus mengampanyekan untuk menghentikan apa yang ia sebut sebagai upacara terkeji, ‘pembantaian massal’ tersebut. Meski begitu, panitia ritual justru menyebut festival tahun ini menjadi yang terbesar.

Sebanyak 2,5 juta pengunjung menonton festival tersebut, menurut pejabat setempat, Yogendra Prasad Dulal. Ia juga mengatakan, mustahil menghitung jumlah keseluruhan hewan yang dikorbankan selama ini.

“Ini adalah hari yang besar,” kata Mangal Chaudary, kepala pendeta dari Kuil Gadhimai. “Pengorbanan dari kerbau-kerbau sudah selesai, tetapi akan kami lanjutkan dengan pemotongan kambing dan hewan lainnya untuk satu hari ke depan,” lanjutnya.

Selama dua hari di acara festival, para pemuja Hindu ini telah memotong lebih dari 6.000 kerbau dan 100.000 kambing serta hewan lainnya. Hewan-hewan ini dipersembahkan untuk Dewi Gadhimai.

Seperti diketahui, lebih dari 80 persen (27 juta penduduk Nepal) adalah pemeluk agama Hindu.

Para pemuja percaya pengorbanan hewan itu akan mendatangkan keberuntungan dan kesejahteraan setelah Dewi Gadhimai terpuaskan.

Meskipun sapi dianggap suci, ribuan hewan yang dipotong, di gambar, adalah kerbau. Jangan bayangkan ‘pengorbanan’ hewan ini seperti cara Islam yang disembelih urat leher (tepatnya 3 saluran di leher) dengan cara ditidurkan terlebih dahulu. Sebanyak 6.000 kerbau ini digiring di sebuah lapangan terbuka, kemudian dipenggal kepalanya, mulai dari atas, menggunakan pedang khas.

Adapun bagian kepala dari hewan yang dikorbankan akan dikubur dalam liang kubur yang besar, sedangkan bagian kulit akan dijual ke pedagang.

Para aktivis dari PETA berkali-kali memprotes festival ini. “Sangat tidak layak membunuh binatang dengan mengatasnamakan agama,” kaat Uttam Kafle, anggota perlindungan hak hewan kepada Reuters.

“Kami mencoba meyakinkan masyarakat bahwa mereka bisa saja melakukan pemujaan dengan cara yang damai, tanpa perlu melakukan kekejaman terhadap hewan,” lanjut Uttam.

Pengadilan Tinggi India belakangan ini sudah meminta pemerintah untuk menghentikan pengiriman hewan ke Nepal yang digunakan untuk upacara tersebut. (sumber: hidayatullah)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>