Umat Islam Peduli Malang Sosialisasikan Fatwa MUI Tentang Penggunaan Atribut Natal

Pemaksaan kehendak kepada ummat agama lain untuk merayakan dan menggunakan simbol-simbol agama yang bukan dianutnya merupakan suatu perbuatan intoleran serta melanggar hukum.

Hal ini mencederai upaya kita bersama untuk menjaga suasana Kota Malang yang aman dan kondusif, serta penuh toleransi dan saling menghargai.

Demikian sosialisasi yang disampaikan oleh Majelis Taklim dan Dakwah Husnul Khotimah Kota Malang dan beberapa Elemen Umat Islam Peduli Malang di beberapa pusat perbelanjaan maupun sarana publik lainnya di Kota Malang, Rabu (23/12/2015) kemarin.

Berdasarkan laporan dari masyarakat selama Desember 2015 ditemukan beberapa tempat usaha di kota Malang yang meminta ataupun mengharuskan karyawannya (termasuk muslim) untuk menggunakan atribut agama lain (topi santa, sinterklas dan lainnya), yang hal ini bertentangan dengan Himbauan Menteri Agama, Fatwa MUI Pusat, MUI Jatim serta MUI Kota Malang, bahwa mengikuti perayaan maupun memakai pakaian atau atribut agama lain bagi seorang muslim haram hukumnya dan bertentangan dengan UUD 1945 tentang kebebasan beragama.

“Sosialisasi ini sebagai bentuk kepedulian kepada sesama Muslim agar terjaga akidahnya dan untuk Kota Malang agar suasana tetap kondusif.”

Sosialisasi dilakukan di beberapa titik di antaranya, MOG, MATOS, Ikan Bakar Cianjur, Stasiun Kota Baru, Royal ATK dan beberapa tempat lainnya.

“Alhamdulillah, aksi simpatik dilakukan secara damai dan dialogis berdasarkan pada koordinasi dengan para Tokoh Masyarakat dan Agama Kota Malang serta pemberitahuan kepada pihak kepolisian.”

Sebagaimana diketahui di beberapa pusat perbelanjaan dan restoran Kota Malang di antaranya seperti Ikan Bakar Cianjur, Stasiun Kota Baru, Royal ATK hampir semua karyawannya diwajibkan menggunakan simbol ataupun atribut agama lain padahal hampir seluruh karyawannya muslim.

“Tentu ini bertentangan dengan prinsip toleransi dan hak kebebasan dalam beragama.”

Dengan dialog persuasif, manajemen MOG dan MATOS menyambut dengan sangat baik dan siap menyampaikan Fatwa MUI tersebut pada karyawannya.

Sedangkan di beberapa tempat lainnya mendapatkan reaksi yang beragam baik positif atau negatif, seperti di Ikan Bakar Cianjur, Stasiun Kota Baru, Royal ATK. Sebab, belum berhasil menemui owner dan manajer yang bersangkutan karena sedang tidak ada di tempat. Namun, pihak manajemen siap berjanji untuk menindaklanjuti kumpulan fatwa MUI tersebut untuk disampaikan pada pemilik toko atau restoran.

“Kami berharap masyarakat muslim ikut mengawal Fatwa MUI tersebut dalam rangka untuk amar ma’ruf nahi mungkar dengan cara yang bijak dan demi terciptanya bumi Arema yang diberkahi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.” (sumber: hidayatullah)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>