Mudah Memaafkan Kesalahan Orang Lain

Salah satu kisah luar biasa yang menggambarkan besarnya rasa memaafkan seorang muslim adalah tauladan yang telah dilakukan oleh Rasulullah ﷺ kepada golongan munafik. Nabi Muhammadﷺ akhirnya berkenan memaafkan Abdullah bin Ubay seorang pemimpin musuh bebuyutan kaum muslimin yang mengharapkan bencana.

Abdullah bin Ubay adalah orang yang menebarkan berita fitnah tentang Siti Aisyah Ummul Mukminin. Kepada sekelompok intelijennya ia mengintruksikan untuk menyebarkan berita fitnah itu ke seluruh penjuru, seolah ada penyelewengan Ummul Mukminin ketika tertinggal dari rombongan Nabi. Sendi-sendi masyarakat Islam digoncangkan dengan berita bohong yang rendah ini.

Kelompok intelijen inilah yang kemudian menyusup dan mempengaruhi salah seorang kerabat dekat Abu Bakar As-Shiddiq, supaya validitas berita itu meyakinkan, mudah diterima dan cepat tersebar luas. Akibatnya, lukalah hati Nabi dan para Sahabat.

Mereka saat itu dirundung kebingungan dan keresahan, dilanda rintihan dan kesedihan. Dan keadaan ini baru berakhir setelah turun ayat Al-Qur’an yang menyingkap tabir kemunafikan dan tipu daya kaum munafik, sehingga terungkaplah rahasia keji mereka.

Dengan demikian jelaslah kesucian Ummul Mukminin tetap terpelihara dan bebas dari tuduhan bohong yang keji dan tidak senonoh itu. Kisah ini diabadikan dalam Al-Quran;

Setitik Kasih Sayang Allah

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ ۚ وَالَّذِي تَوَلَّىٰ كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira berita bohong itu buruk bagi kamu. Tiap-tiap seorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya adzab yang besar.” (QS: An Nur:11).

Mudah Memaafkan Kesalahan

Allah telah membuktikan janji-Nya. Maka tidak lama berselang Abdullah bin Ubay jatuh sakit dan matilah dia, setelah membuat keonaran dan keresahan yang merata di segala penjuru. Namun demikian ketika anak Abdullah bin Ubay datang kepada Rasulullah ﷺ untuk meminta ampunan bagi ayahnya, beliau tetap memaafkannya.

Allah telah memilih nabi kita Muhammad untuk mengajarkan bagaimana akhlak dan tauladan yang mudah memaafkan kesalahan orang lain. Bahkan ketika anaknya memohon agar Rasulullah ﷺ membungkus mayat ayahnya dengan gamis beliau sendiri, Rasulullah ﷺ juga mengabulkannya.

Demikian pula ketika anak pemimpin munafik itu memohon kepada Rasulullah agar beliaulah yang menshalatkan dan memintakan maaf untuknya, Rasulullah ﷺ yang halus jiwanya dan pemaaf, tidak menolak permohonannya. Beliau bahkan berdiri di depan mayat yang pernah ‘menikam’ beliau dari belakang itu.

Rasulullah ﷺ menshalatinya sambil tidak henti-hentinya memohonkan ampunan kepada Allah. Akan tetapi Sang Hakim Agung Allah SWT membatalkan semua itu dengan diturunkannya ayat:

اِسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ اَوۡ لَا تَسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡؕ اِنۡ تَسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ سَبۡعِيۡنَ مَرَّةً فَلَنۡ يَّغۡفِرَ اللّٰهُ لَهُمۡ‌ؕ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمۡ كَفَرُوۡا بِاللّٰهِ وَرَسُوۡلِهٖ‌ؕ وَاللّٰهُ لَا يَهۡدِى الۡقَوۡمَ الۡفٰسِقِيۡنَ

“Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kufur kepada Allah dan Rasul-Nya, dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada golongan orang-orang yang fasik.” (QS: at-Taubah: 80).

Demikianlah hukum Allah yang berlaku di atas orang-orang munafik dan orang-orang kafir. Secara fisik mereka memang telah tiada, tetapi benih kuman kejahatan mereka tidak turut terkubur, masih segar-bugar dan terus bergentayangan membikin gara-gara dan keonaran. Mereka terus menipu, memfitnah untuk menjerumuskan kaum muslimin yang lemah ke lembah keonaran.

Setelah peristiwa adanya berita bohong (hoaks) tersebut, ditemukan bahwa salah seorang kerabat Abu Bakar, turut terlibat persekongkolan jahat ini. Ialah yang berhasil dipengaruhi kelompok penyusup, untuk menyebarkan berita hoaks Umul Mukminin, Aisyah ra.

UNTUK memelihara kemuliaan dan kesucian keluarga, Abu Bakar akhirnya bersumpah tidak akan memberi maaf dan tidak akan ada lagi berhubungan baik seperti yang telah terjadi selama ini kepadanya. Namun Allah memperingatkan dengan menurunkan ayat-Nya:

وَلَا يَاۡتَلِ اُولُوا الۡـفَضۡلِ مِنۡكُمۡ وَالسَّعَةِ اَنۡ يُّؤۡتُوۡۤا اُولِى الۡقُرۡبٰى وَالۡمَسٰكِيۡنَ وَالۡمُهٰجِرِيۡنَ فِىۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِ ‌‌ۖ وَلۡيَـعۡفُوۡا وَلۡيَـصۡفَحُوۡا‌ ؕ اَلَا تُحِبُّوۡنَ اَنۡ يَّغۡفِرَ اللّٰهُ لَـكُمۡ‌ ؕ وَاللّٰهُ غَفُوۡرٌ رَّحِيۡمٌ

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang hijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang?” (QS: an-Nur: 22).

Setelah ayat ini turun, Abu Bakar ra berhubungan kembali dengan kerabatnya seperti dahulu, beliau juga memberikan maaf serta memberikan sumbangsih untuk keperluan hidupnya. Beliau memberi sesuatu seperti biasanya, dan beliau berkata, “Aku ingin agar Allah mengampuni aku.”

Sungguh beginilah tauladan agung yang telah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ dan Sahabat Abu Bakar ini. Peristiwa semacam itu dalam versinya yang lain tidak mustahil juga ada dalam kehidupan kita.

Sikap berlapang dada dan mampu memaafkan orang lain inilah yang sebaiknya diambil. Sebab dengan berlapang dada akan menjadi tonggak-tonggak dalam pergaulan hidup bermasyarakat. Dengan adanya saling maaf roda kehidupan ini berjalan seimbang.

Memang ada puncak-puncak di mana kita sebagai manusia biasa yang dhaif ini, kehabisan minat untuk memaafkan orang lain. Tidak ada keinginan untuk memaafkan manusia yang pernah berbuat salah dengan diri kita walaupun itu secuil saja.

Sifat tidak terpuji yang dilarang Allah ini tumbuh karena rasa jengkel dan kemarahan kita yang sangat besarnya kepada orang lain. Padahal boleh jadi bilalah kemarahan dituruti, tumpahan kemarahan kita belum seimbang dengan beban-beban moral yang telah kita alami. Allah yang Maha Adil, menuntun kita untuk memberikan maaf, membuka kelapangan dada selebar-lebarnya, sedongkol apapun menurut subyektivitas penilaian kita. Hanya keadilan yang maha sempurna akan diperlihatkan kelak di mahkamah kemuliaan-Nya.

Rasulullah ﷺ sebagai tauladan segenap alam memberi uswah untuk menonjolkan sikap pemaaf, hatta, kepada lawan yang paling jahat dan menjengkelkan. Begitulah nabi kita, panutan kita.

Memberi maaf memang suatu pekerjaan yang berat. Namun seuntai kata maaf sebenarnya memberi banyak kenikmatan dalam hidup dan kehidupan, dan menjadi pelega rasa dan jembar jiwa.

Allah swt berfirman di dalam Surah Asy-Syura: 43,

وَلَمَنۡ صَبَرَ وَغَفَرَ اِنَّ ذٰلِكَ لَمِنۡ عَزۡمِ الۡاُمُوۡرِ

“Dan sungguh siapa yang sabar dan suka memberi maaf, maka sesungguhnya pada yang demikian itu termasuk perkara yang penting.” (QS: Asy-Syura:43).

Demikiankan jika konsep Islam diterapkan maka hidup dunia terasa sangat indah, dan potensial menumbuhkan ketenteraman. Orang tidak perlu saling ngotot di dunia, karena siapapun yang melakukan kecurangan, kejahatan, pasti akan ada pertanggungjawabannya di akherat.

Bila budaya saling memaafkan telah tumbuh, ditambah kesadaran bahwa hidup ini tidak berjalan tanpa pengawasan malaikat Allah, maka damailah semuanya. Orang tidak akan sewenang-wenang sekalipun tidak bisa dikenali, dan orang (korban) bisa gampang memberikan maaf sekalipun yang berbuat (pelaku) kesalahan belum muncul meminta maaf. (sumber: hidayatullah)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>