Kategori: Iman

Apakah Benar Rasulullah Pernah Melihat Surga dan Neraka?

Pertanyaan tentang apakah Rasulullah Muhammad SAW pernah melihat surga dan neraka saat Isra Miraj, pernah muncul di tengah masyarakat. Mantan mufti agung Mesir Syekh Ali Jumah menjelaskan mengenai peristiwa di waktu Isra Miraj saat Rasulullah melihat surga dan neraka.

Cendekiawan Muslim tersebut menjelaskan, pada kitab karya Imam Suyuthi berjudul Ayat al-Kubra fi Syarh Qisshat al-Mi’raj menjelaskan bahwa ketika perjalanan Isra Miraj bisa jadi benar Rasulullah telah melihat surga dan neraka dengan mata kepalanya sendiri.

Mengapa Kita Tetap Harus Minta Hidayah Meski Sudah Muslim?

Allah SWT senatiasa memberikan petunjuk kepada siapa pun yang Dia kehendaki. Dan Nabi Muhammad SAW datang untuk membimbing umatnya ke jalan yang lurus. Manusia memerlukan hidayah dari Allah SWT dalam kehidupannya. Kebutuhan hidayah jauh lebih besar dari makanan dan minuman. Hal ini karena makan dan minum hanya untuk memenuhi kebutuhan manusia di kehidupan yang singkat dan fana ini.

Dikutip dari laman Islamweb pada Senin (15/2), terdapat sejumlah dalil baik dari Alquran dan hadits yang menjelaskan mengapa kita dituntut senantiasa meminta hidayah. وَوَجَدَكَ ضَآ لًّا فَهَدٰى “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.” (QS Ad-Dhuha: 7).

Ternyata Roh Orang Wafat Bisa Saling Bertemu, Ini Kata Ulama

Kematian merupakan pindahnya roh dari jasad, bukan berakhirnya kehidupan. Kematian pun hanya menjadi perpindahan dari alam dunia yang fana ke alam barzakh, yaitu alam pemisah antara dunia dengan akhirat.

Dr Musa bin Fathullah Harun dalam bukunya Perjalanan Rabbani, menjelaskan, maut menjadi pintu gerbang untuk melalui akhirat. Roh manusia yang wafat akan tinggal di alam barzakh hingga hari kebangkitan manusia dari kuburnya pada kiamat kelak. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan dari Imam Tirmidzi.

Tauhid Uluhiyyah

Tauhid adalah fondasi ajaran Islam yang paling mendasar. Mengesakan Allah SwT dan beribadah hanya kepada-Nya merupakan akidah asasi bagi setiap Mukmin. Karena itu, akidah tauhid menjadi “pengikat” hati dan pikiran hamba kepada-Nya, sekaligus sebagai “penyatu” orientasi hamba dalam beribadah kepada-Nya dan bermuamalah duniawiyah.

Secara bahasa, tauhid mengandung arti mengesakan dan menyatukan. Mengesakan berarti mengimani bahwa Allah SwT itu Maha Esa; tiada tuhan selain-Nya; tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah tidak diduakan dan tidak pula memiliki mitra setara dengan-Nya. Allah itu tidak melahirkan atau tidak mempunyai istri; dan tidak pula dilahirkan atau mempunyai ayah. Allah itu benar-benar unik, tidak ada yang sesuatu pun yang setara dengan-Nya.

Kemanakah Kamu Akan Pergi?

Sebuah pertanyaan yang sering terngiang di ingatan. Sebuah pertanyaan yang terkadang sulit untuk mengundang jawaban. Salah satu pertanyaan yang dapat menentukan masa depan. Salah satu pertanyaan abadi dalam kehidupan yang akan terus menerus ditanyakan. Maka kemanakah kamu akan pergi?

Jika dihubungkan dengan kehidupan, maka ketika saat ini masih sekolah, jawabnya mungkin lanjut kuliah. Jika saat ini menempuh perkuliahan, jawabnya mungkin lanjut mencari penghasilan. Jika saat ini sedang mencari penghasilan, jawabnya mungkin lanjut ke jenjang pernikahan. Begitu seterusnya hingga suatu saat pergi menginggalkan kehidupan.