Kategori: Muallaf

Momen Terbaik Faith Abbey Menjadi Mualaf

Seorang mualaf bicara soal momen terbaik hidupnya, yaitu ketika bertemu kembali dengan ayahnya yang berhasil lepas dari Liga Pertahanan Inggris (EDL). EDL merupakan kelompok anti-Islam di Inggris dengan lambang salib merah, yang mengklaim sebagai pembela iman dan Inggris.

Adalah Faith Abbey (28 tahun), yang berbagi pelukan emosional dan makan siang dengan ayahnya di London pekan ini setelah berpisah selama lima tahun. Mereka dulunya dekat, hingga kemudian, ayah Abbey mendapat pandangan sempit dan kaku tentang Muslim’.

Kisah Mualaf David Pradarelli, Berawal dari Menonton Berita

Bagi David Pradarelli, menjadi seorang Muslim merupakan sebuah anugerah. Dia lahir dan besar dalam ajaran Katolik Roma. Namun, ia selalu memiliki ketertarikan yang mendalam dengan agama lain. Perjalanannya menjadi mualaf dimulai saat ia ingin memiliki hubungan dengan Tuhan.

“Saya menghabiskan beberapa waktu di ordo agama Katolik yang dikenal sebagai Fransiskan. Saya memiliki banyak teman dan saya menikmati waktu saat beribadah,” kata David dalam buku Stories of New Muslims.

Delfano Charies, Hati Tersentuh Antusiasme Berhaji

Betapa Allah SWT Maha membolak-balikkan hati manusia. Seorang insan bisa jatuh hati pada sesuatu yang dahulu dibencinya. Sebaliknya, kebencian pun dapat timbul dari hal-hal yang semula dicintainya secara berlebihan.

Maka dari itu, Nabi Muhammad SAW mengajarkan umatnya agar memohon ketetapan hati kepada Allah Ta’ala. “Ya Muqallibal qulubi, tsabbit qalbi ‘ala diinika,” (Wahai Zat Yang Maha membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku berada di atas agama-Mu).

Terinspirasi Mohamed Salah, Ben Bird Peroleh Hidayah Islam

Pesepak bola Liverpool asal Mesir, Mohamed Salah, telah memberikan pengaruh positif di Liga Primer Inggris. Dia telah menginspirasi salah seorang penggemar sepak bola Inggris yang menjadi pemegang tiket musiman di Nottingham Forest, Ben Bird.

“Mohamed Salah benar-benar menginspirasiku. Aku sendiri adalah pemegang tiket musiman Nottingham Forest. Aku bisa menjadi diriku sendiri karena aku menyatakan keyakinan bahwa aku Muslim. Aku tetaplah diriku, dan itulah yang bisa dipetik dari seorang Mohamed Salah. Saya ingin sekali bertemu dengannya, hanya untuk menjabat tangannya dan mengucapkan ‘Cheers’ atau ‘Syukran’,” kata Bird dalam artikelnya yang dimuat di laman The Guardian.

Meneliti Kekurangan al-Qur’an, Hasilnya Malah Terpesona Lalu Masuk Islam

Gary Miller adalah seorang ilmuwan di Universitas Totonto, Kanada. Selain menjadi anggota dewan ahli di universitasnya, ia juga aktif sebagai misionaris Kristen. Ia Masuk Islam justru setelah meneliti kekurangan al-Qur’an.

Gary adalah ilmuwan yang sangat meminati bidang logika dan hal-hal logis. Di samping itu, ia juga belajar teologi di Universitas Wheeling Jesuit, Amerika Serikat. Namun ia mendapat gelar doktor dalam bidang matematika dari Universitas Toronto.