Kategori: Akhlak

Muslim itu Bicara Baik atau Diam

“Berkata benar akhlak yang mulia, sifat terpuji, semua orang suka. Berbohong menipu, sifat yang tercela, di dunia lagi terima balasannya,” demikian bait nasyid yang dinyanyikan oleh Umam yang berjudul “Berkata Benar.”

Seperti jamak dipahami, tak satu pun orang mau apalagi rela dibohongi. Oleh karena itu, pantas dan tepat jika Islam memasukkan urusan bicara ini sebagai bagian dari ajaran yang setiap Muslim mesti memperhatikan dan mengamalkanya.

Beginilah Cara Hidup Bertetangga

Tetangga yang baik adalah tetangga yang mempunyai pengertian tentang kehidupan orang lain yang tinggal di sebelahnya. Walau tidak sengaja mencari-cari, namun bila ada kesempatan berbuat baik kepada tetangga, maka kesempatan itu tidak disia-siakan.

Satu keluarga yang sedang mengalami kesusahan, pastilah hanya tetangga terdekat yang mampu memberikan pertolongan pertama kepadanya. Kesusahan yang menimpa seseorang atau keluarga tidak melihat waktu, status sosial, dan lainnya. Yang berbeda hanyalah bentuk dan jenisnya saja. Dan dapat dipastikan, pertolongan pertama yang diberikan oleh orang yang terdekat, nilainya akan lebih tinggi dari pada pertolongan saudaranya yang jauh.

Laki-Laki Ini tak Jadi Membunuh Rasulullah, Penyebabnya?

Umair bin Wahb adalah seorang pahlawan Quraisy yang gagah berani dan ditakuti karena kecerdikannya. Dia berasal dari Kabilah Jamh dan sangat loyal pada kelompoknya bahkan sempat berencana untuk membunuh Rasulullah. Namun ketika hendak melaksanakan rencananya tersebut, Allah memberi hidayah kepadanya dan dia segera masuk Islam.

Sejarah tidak banyak menyebutkan tentang masa kecil Umair hanya menyentuh kehidupannya sebagai seorang remaja yang mempunyai kekuatan dan kedewasaan dalam berpikir. Pendapat-pendapatnya selalu dibenarkan orang-orang yang berpengaruh dalam kabilahnya. Tidak hanya itu sejarah menyebutkan tentang langkah dan kejutan yang dibuatnya serta kemahirannya dalam renang.

Mengenal Sikap Wara

Sikap wara dalam kehidupan sehari-hari sudah langka disebut kaum Muslimin. Bahkan, kadang mereka cenderung menggampangkan sikap mulia ini, sehingga tak sedikit yang terjerumus dalam perbuatan yang tidak disukai oleh Allah.

Dalam mencari rezeki, misalnya, tanpa sikap ini kita sering kali terjerembab dalam riba, dusta, menipu, syahwat dunia, dan perbuatan tercela lainnya. Parahnya, perbuatan tersebut dilakukan tanpa merasa berdosa dengan dalih hanya untuk memenuhi kebutuhan keduniawian.

Melihat Kekurangan Diri Sendiri

Islam sebagai jalan hidup tidak pernah memberi ruang seorang pun untuk menepuk dada, membanggakan diri atas Muslim lainnya.

Hal ini tidak lepas dari fakta kehidupan, dimana memang no body perfect (tak ada manusia sempurna). Oleh karena itu, Islam mendorong umatnya untuk terus-menerus memperbaiki diri, sebaliknya sangat melarang mencela, mengupas aib sesama, dan bersikap sombong.

Ibn Hazm sebagaimana dikutip oleh Buya Hamka dalam bukunya Lembaga Budi menekankan bahwa seorang Muslim harus pandai melihat kekurangan diri agar terhindar dari sikap suka membanggakan diri sendiri.