Kategori: Akhlak

Adab Bercanda dalam Islam

“Sesungguhnya aku juga bercanda, namun aku tak mengatakan kecuali yang benar.” (HR ath-Thabrani).

Hidup tanpa bercanda pasti terasa hampa. Bercanda atau bersenda gurau merupakan bagian dari kehidupan sosial manusia. Ajaran Islam pun memperbolehkan umatnya untuk bercanda. Sebab, Nabi Muhammad SAW pun suka bercanda dengan para sahabat. Lalu seperti apakah cara becanda Rasulullah SAW?

Kewajiban Membesuk Orang Sakit

Bagi mereka yang sehat, ajaran Islam juga memberikan tuntunannya. Dalam bukunya, Ensiklopedi Akhlak Muhammad SAW, Mahmud al-Mishri mengatakan, turut merasakan sakit orang yang sakit mendatangkan pahala yang besar. Adapun membesuknya memiliki kadar sunah yang begitu kuat dan berpengaruh baik bagi kalbu orang tersebut.

Berdasarkan hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Rasul menegaskan, membesuk orang sakit merupakan kewajiban seorang Muslim terhadap sesama Muslim. Dia selalu menengok sahabatnya yang terbaring sakit. Tujuan membesuk adalah menghibur keluarga orang yang sedang sakit.

Menjaga Mulut

Islam mengajarkan kita untuk selalu memelihara mulut dari kata-kata yang dapat menyinggung perasaan orang lain. Bahkan Alquran memberi petunjuk dengan baik tentang cara berkomunikasi melalui mulut.

Pertama, berkata dengan qaulan syadidan (perkataan yang benar dan lurus); kedua, berkata dengan qaulan balighan (perkataan yang menyentuh lubuk hati); dan ketiga, berkata dengan qaulan layyinan (perkataan yang lembut/menyenangkan). Ketiga perkataan tersebut, bila dilaksanakan dengan benar, akan dapat mewujudkan komunikasi yang bebas dari rintangan dan hambatan (efektif).

Memupuk Jiwa Empati

Empati adalah kemampuan merasakan apa yang orang lain rasakan. Empati juga termasuk upaya mengelola hati, yang di dalamnya tertanam kepekaan dan kepedulian. Rasulullah telah memberikan keteladanan tentang pentingnya berjiwa empati.

Dalam sabdanya beliau mengumpamakan kaum muslim ibarat anggota badan. Jika salah satu anggota badan sakit, yang lain merasakannya. Beliau pun dengan tegas menyatakan, bukan termasuk kaumnya bagi seseorang yang tidak peduli terhadap sesamanya.

Bersabar dan Bersyukur Atas Kesenangan dan Kesusahan

Kedua nikmat tersebut membutuhkan kesabaran dan rasa syukur. Ada pun nikmat kesusahan, maka perlunya bersabar atas hal itu adalah sudah sangat jelas. Sedangkan nikmat kesenangan membutuhkan kesabaran dalam melakukan ketaatan di dalamnya, karena sesungguhnya ujian dengan kesenangan itu lebih berat dibanding ujian dengan kesusahan.

Sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang salaf, “Kami telah diuji dengan kesusahan tetapi kami mampu bersabar. Kami telah diuji dengan kesenangan ternyata kami tidak mampu bersabar.”