Kategori: Akhlak

Tenangnya Hati Karena Ingat Akhirat

Sifat dunia adalah fana, gemerlapnya bukan sumber ketenangan, banyaknya bukan pondasi kebahagiaan. Dunia, segala sisinya adalah kekeruhan, kecuali digunakan untuk ketaatan dan pengabdian kepada Allah Ta’ala.

Hanya agama (baca Islam) yang mampu memberikan uraian perihal hakikat dunia secara rasional dan empiris. Manusia yang kafir kepada ajaran Islam, tidak ada tujuan tertinggi dalam hidupnya, kecuali sumber dari kegelisahan itu sendiri, yakni segala macam capaian keduniaan, mulai dari harta hingga tahta.

Dahsyatnya Keburukan Kebohongan

Jika perbuatan jujur selalu disertai pujian, maka karena kejujuran itu memang melekat di dalamnya sifat-sifat tertentu yang membuat pelakunya dipuji. Demikianlah diungkapkan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Miftah Daris Sa’adah.

Biarpun kejujuran itu menjadi kendaraan orang yang tak terhormat secara status sosial, maka kehormatan itu akan melekat bersama orang yang benar-benar jujur. Itulah sosok Nabi Muhammad tidak dihormati oleh siapapun karena kejujurannya yang teruji.

Menyikapi Pujian

Alhamdulillah, puji dan syukur hanya untuk Allah, Dzat yang menjadi tempat kembali segala pujian. Shalawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Rasulullah Saw. Pujian adalah hal yang lumrah dalam kehidupan kita sehari-hari. Kerap kali kita mendapat pujian dari atasan kita, dari orangtua, dari anak, atau dari teman kita. Padahal ketahuilah saudaraku, sesungguhnya pujian itu datang tiada lain adalah karena mereka tidak tahu saja keburukan kita.

Ya, sesungguhnya kita dipuji oleh orang lain bukan karena kebaikan kita, melainkan karena Allah Swt. menutupi keburukan-keburukan kita dari pandangan manusia. Seandainya saja Allah membukakan keburukan kita dan seandainya saja keburukan kita mengeluarkan bau tak sedap, niscaya tak ada seorang pun yang mau duduk di dekat kita.

Rendah Hatilah terhadap Orang Beriman

Alhamdulillah kita masih diberi kesempatan untuk mengambil pelajaran dari ayat-ayat suci Alquran. Dan kali ini kita akan menengok kepada satu istilah yang sering digunakan di dalamnya.

Istilah itu adalah “Khifdzul Janaah” yang bermakna merendahkan hati. Istilah ini asalnya digunakan untuk burung yang merendahkan sayapnya untuk melindungi dan mengasihi anaknya.

Berdoa dan Perbanyaklah Rasa Malu Pada Allah

WAHAI jiwa (an-nafs)! Berdoalah, dan merasa malu kepada-Nya, karena engkau terlalu lama tidak memiliki rasa malu kepada-Nya.

CELAKALAH engkau! Engkau malu kepada makhluk; kepada orang-orang Mukmin dan orang-orang kafir, kalau mereka melihat di dalam dirimu terdapat apa yang membuat mereka menceIamu, sementara engkau tidak malu kepada Yang melihat dan memantau banyaknya dosa-dosa dan buruknya kata hatimu (dhamiruka).